Ulasan Buku: Matinya Kepakaran by Tom Nichols

“Tak hanya membuat kita semua lebih pintar, internet membuat kita lebih bodoh. Sebab, internet bukan hanya magnet bagi orang penasaran. Internet juga merupakan jebakan bagi orang lugu. Internet mengubah semua orang menjadi ahli secara instan” – Frank Bruni

Akses informasi yang tidak terbatas melalui internet menjadikan setiap orang dengan mudah mendapatkan informasi dari mana saja dan kapan saja. Namun apakah dengan lonjakan pengetahuan yang cepat ini mampu memberikan amunisi pencerdasan bagi orang-orang atau justru menjadikan pengguna internet ini semakin bebal dan tidak lagi mempercayai pendapat para pakar dalam kehidupan sehari-hari?

Dalam Buku Matinya Kepakaran (The Death of Expertise) Tom Nichols secara blak-blakan menjelaskan pengaruh besar internet untuk melumpuhkan pengetahuan yang telah mapan. Meski latar belakang tempatnya adalah Amerika Serikat, dan konflik-konflik yang dipaparkan juga adalah permasalahan di Amerika Serikat, namun kondisi tersebut secara umum juga terjadi di Indonesia. Kritikan Tom Nichols terhadap internet dan potret Universitas masa kini yang menjadi kunci matinya kepakaran adalah dua topik yang ingin saya bahas di tulisan kali ini.

Apakah internet seburuk itu?

Beragamnya pengetahuan yang didapatkan oleh setiap orang di internet menjadikan mereka percaya bahwa setiap orang berhak berpendapat dan pendapat setiap orang sama nilainya. Kepintaran tidak lagi diukur berdasarkan tingkat pendidikan formal  yang ditempuh, namun sedikit informasi yang didapatkan melalui internet, kemudian memberikan komentar yang cukup intelek tentang topik yang sedang hangat dibahas, maka seseorang tersebut sudah dapat dikatakan pintar. Namun betulkah demikian?

Hadirnya internet dan media sosial memberikan tuntutan kepada setiap orang untuk berpura-pura tahu terhadap persoalan apapun. Dinamika sosial yang terjadi menjadikan setiap orang ingin terlihat cerdas, mampu memberikan komentar terhadap permasalahan publik, meskipun mereka sebenarnya tidak paham akan hal tersebut. Kondisi ini disinggung oleh Karl Taro Greenfield yang merupakan seorang penulis, menyebut bahwa orang sekarang berusaha untuk “pura-pura melek budaya”.

Orang-orang membaca sekilas berita dan artikel hanya untuk dapat terlibat dalam obrolan, forum diksusi, maupun memberikan komentar atau pendapat di akun media sosial. Bukan karena benar-benar tertarik akan topik tersebut tapi hanya sebatas perlu mengetahui dan punya pendapat. Internet memungkinkan seseorang berpura-pura memiliki prestasi intelektual dan mengalami ilusi memiliki kepakaran, lantaran ada sumber fakta tanpa batas di tangan kita.

Ruang  publik yang dibanjiri oleh informasi membuat kita kesulitan membedakan apakah informasi tersebut memang penting atau justru hanya sekadar tulisan iseng dari seseorang. Algoritma media sosial mendorong kepercayaan pengguna terhadap berita/informasi yang sering dimunculkan, dan sedikit sekali orang-orang yang menelusuri apakah informasi tersebut berupa fakta aktual ataukah justru berita bohong. Kondisi berupa bias konfirmasi menjadikan pengguna internet menelan mentah-mentah apa yang tersajikan di internet. Oleh karenanya, berita hoaks mudah sekali tersebar di berbagai media.

Salah satu konflik yang diangkat dalam buku ini adalah kasus tentang orang-orang yang menyangkal bahwa AIDS tidak disebabkan oleh virus HIV. Informasi tersebut tersebar di kalangan masyarakat dan tidak sedikit orang yang mempercayainya. Thabo Mbeki yang saat itu menjabat sebagai presiden Afrika Selatan meyakini gagasan bahwa AIDS tidak disebabkan oleh virus, sehingga ia menolak obat-obatan untuk mencegah HIV di Afrika Selatan. Kondisi ini justru menyebabkan tiga ratus ribu lebih orang meninggal, dan sekitar tiga puluh lima ribu anak lahir dengan HIV positif yang infeksinya seharusnya bisa dihindari jika kepala pemerintah saat itu lebih selektif dalam mempercayai informasi.

Kondisi ini mirip yang terjadi di Indonesia, ketika 2019 silam saat pandemi virus Covid-19 menjadi ancaman global. Menurut Lembaga Survei Indonesia tahun 2021 sebanyak 36,4% masyarakat menolak untuk melakukan vaksin dengan berbagai alasan. Bahkan tagar untuk menolak vaksin juga mencuat di aplikasi twitter dan menjadi trending topik pada saat itu. Alasan yang paling banyak dikemukakan adalah bahaya dari efek samping yang ditimbulkan setelah vaksin, dan beberapa kalangan juga banyak yang mempertanyakan kehalalan dari vaksin tersebut. Mirisnya masyarakat yang mempercayai berita tersebut mendapatkan informasi dari sumber-sumber yang tidak terpercaya, padahal pentingnya melakukan vaksin sudah disampaikan oleh para tenaga  medis yang merupakan pakar di bidangnya.

“Mengakses internet benar-benar dapat membuat orang lebih bodoh dibandingkan jika mereka  tidak pernah melakukannya sama sekali. Tindakan mencari informasi membuat orang berpikir mereka telah belajar sesuatu, padahal kenyataannya, mereka tenggelam dalam lebih banyak data yang tidak mereka pahami. Ini terjadi karena, setelah cukup lama mencari, kita tidak mampu lagi membedakan antara hal yang sekilas kita lihat dan hal yang benar-benar kita ketahui” h 144.

Lantas seperti apa pengaruhnya internet terhadap kepakaran? Di era abad-21 setiap orang merasa berhak memberikan komentar dan tanggapan terhadap segala sesuatu meskipun hal tersebut di luar bidang keahliannya. Pendapat tersebut kemudian dimuat oleh media dan diunggah ke internet sehingga orang awam yang melihat tanggapan tersebut, apalagi itu disampaikan oleh publik figur yang mereka gemari, akan muncul kepercayaan sekalipun apa yang disampaikan oleh publik figur tersebut belum tentu benar.

Orang-orang lebih percaya jika informasi tersebut disampaikan oleh selebriti idolanya dibandingkan mendengarkan penjelasan dari pakar. Bahkan informasi terkait kesehatan pun orang-orang cenderung lebih mempercayakan internet untuk memberikan diagnosis alih-alih langsung berkonsultasi kepada pakar. Dengan mengetik di mesin pencari tentang gejala penyakit yang dirasakan, para pengguna akan langsung mengetahui penyakit tersebut dengan satu kali klik. Mudah, cepat, dan gratis.

Internet dan media sosial juga mematikan nilai empati para penggunanya. Orang cenderung mencari tahu apa yang mereka sukai dan memberikan komentar mendukung jika menganggap apa yang disampaikan oleh orang lain sejalan dengan nilai-nilai yang mereka yakini. Sedangkan mereka cenderung memusuhi dan memberikan komentar negatif terhadap hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka anut. Oleh karena itu, tidak sedikit kita melihat ujaran kebencian maupun komentar-komentar nirempati di media sosial. Orang lebih suka untuk langsung memberikan komentar daripada mencari tahu terlebih dahulu kebenaran dari informasi tersebut.

“ketidakingingan mendengarkan orang lain bukan hanya membuat kita secara umum lebih menyebalkan, melainkan juga membuat kita semakin tidak mampu berpikir, berdebat secara persuasif, dan menerima koreksi saat kita salah” h. 156.

Internet yang sekarang jadi kebutuhan sehari-hari setiap orang tentu pula memiliki banyak kelebihan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana setiap pengguna menggunakan internet secara bijak dan tidak lantas percaya dengan video-video pendek yang muncul di media sosial, namun mampu secara selektif menyaring informasi-informasi yang mereka dapatkan, mencari tahu apakah berita tersebut benar-benar fakta atau justru berita hoaks. Bijak dalam penggunaan serta memilih konten adalah salah satu langkah prefentif agar kita tidak dengan mudah percaya apa saja yang ada di internet.

Benarkah Universitas gagal memberikan pendidikan?

“Perguruan tinggi tidak lagi menjadi jalan menuju kematangan berpendidikan, dan malah hanya menjadi taktik untuk menunda kedatangan masa-masa dewasa yang keras” h. 88

Selain internet, Tom Nichols juga mengkritik perguruan tinggi yang dimana ia anggap juga berperan dalam matinya kepakaran. Perguruan tinggi pada abad-21 yang seharusnya bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki latar belakang memadai dalam bidang tertentu, menjadi pembelajar sepanjang hidup, dan kemampuan memahami peran sebagai warga negara yang baik, kini beralih fungsi untuk memberikan layanan lengkap “pergi kuliah” semata-mata guna mendapatkan gelar.

Perguruan tinggi yang berorientasi kepada pelanggan dan bukan kepada pemberian pendidikan yang layak, menjadikan mahasiswa tidak kompeten dalam bidang yang seharusnya mereka kuasai sesuai jurusan yang dipilihnya. Saya sendiri melihat kondisi pembelajaran di perguruan tinggi sangat tidak efektif, tingginya biaya pendidikan tidak sebanding dengan ilmu pengetahuan yang seharusnya didapatkan oleh mahasiswa. Proses belajar mengajar sekadar fomalitas untuk mengisi absensi saja, kualitas pengajar yang tidak memadai. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, tidak banyak dosen yang bisa menjelaskan secara mendalam tentang mata kuliah yang diajarkannya.

Perguruan tinggi berlomba-lomba untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya mahasiswa baru dengan meng-iklankan akreditasi Universitas dan jurusan untuk meningkatkan jumlah pendaftar. Calon mahasiswa yang memilih jurusan tanpa terlalu memikirkan posisi universitas, sumber-sumber akademis, atau bagaimana universitas menempatkan lulusannya, beresiko meninggalkan kampus ketika lulus dengan pengetahuan yang lebih sedikit daripada yang mereka percaya. Oleh karenanya, banyak lulusan yang tidak memiliki bekal pengetahuan namun merasa sudah mengetahui banyak hal.  

Di universitas mahasiswa seharusnya terlibat dalam setiap proses pendidikan yang ditempuhnya, tidak sekadar menjadi penonton ataupun penerima informasi. Aktif terlibat dalam debat akan kehidupan universitas dengan para dosen, dan dosen-dosen pun seharusnya kebal jika dikritik mengenai gagasan ataupun cara mengajar mereka. Debat yang sehat dan cerdas tentunya akan menambah nalar kritis mahasiswa. Namun, model industri pendidikan masa kini telah merendahkan perguruan tinggi menjadi sekadar transaksi komersial, tempat mahasiswa diajarkan menjadi konsumen pemilih dan bukannya pemikir kritis. Kondisi tersebut menurut Tom Nichols membuat kepakaran menjadi goyah dan mematikan tujuan sejati hadirnya universitas.

Buku ini juga menyinggung tekait malapraktik di bidang akademisi mengenai publikasi ilmiah yang dilakukan oleh dosen maupun ilmuwan. Dibeberapa kesempatan saat saya berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa yang diwajibkan untuk melakukan publikasi ilmiah yang bereputasi, mereka mengatakan bahwa dalam artikel ilmiah yang akan dipublikasikan tidak sedikit dosen yang meminta untuk dijadikan sebagai penulis pertama, padahal baik penelitian maupun biaya publikasi adalah milik si mahasiswa.

“Ketika penelitian tahun 2005 menanyakan ilmuan soal keterlibatan mereka dalam penelitian yang meragukan, hampir 2 persen peneliti mengaku pernah melakukan pembohongan,  pemalsuan, atau modifikasi data setidaknya satu kali, sementara 14 persen mengatakan menyaksikan perilaku tersebut dilakukan oleh kolega mereka..” h.220

Di luar dari dua poin ini, ada beberapa hal lagi yang menjadi penyebab matinya kepakaran yang dijelaskan oleh Tom Nichols. Nichols juga memberikan gambaran bahwa matinya kepakaran akan berdampak pada matinya demokrasi. Saya tidak akan menjelaskannya dalam tulisan ini, jadi silahkan readers membacanya sendiri. Sebagai penutup saya ingin menyampaikan bahwa seluas apapun informasi yang bisa kita akses di internet, sebesar itu pula tanggung jawab kita untuk bijak dalam memilah informasi agar kita sebagai pengguna tidak tersesat di mesin pencari.

Semoga semua mahluk berbahagia ☺️📚

~rant

 

Komentar

Postingan Populer