Privasi: omong kosong yang elegan
"Privasi" saat mendengar satu kata itu yang keluar dari mulut saya hanya suara ketawa yang keras. benarkah seseorang bisa memiliki privasi untuk dirinya sendiri? dari penjelasan umum privasi dapat didefinisikan sebagai kebebasan yang hanya diketahui oleh diri sendiri, atau tidak mengizinkan seseorang untuk tahu terhadap apa yang ada atau terjadi pada diri kita.
apakah memang ada ruang untuk diri sendiri yang tidak bisa diganggu atau diketahui orang lain? jujur saja saya belum mampu menjawab pertanyaan itu. sebagai manusia yang hidup, kita diberi pikiran yang siapa sangka kekuatan pikiran itu dapat menembus sekat antar manusia, yang terlihat ataupun tidak terlihat. dengan kekuatan pikiran ini bahkan kita bisa melihat orang yang berpakaian tapi pikiran dapat membayangkannya dengan tidak menggunakan sehelai kain pun. sampai disini mungkin para pembaca sudah tahu maksud dari judul tulisan ini.
Ketika seseorang membangun tembok, seseorang lainnya haus akan tahu tentang apa yang ada di sisi lain tembok. Sepertinya itu sudah menjadi sifat dasar manusia, gemar mencari tahu yang sebetulnya tidak penting untuk diketahui apalagi hal itu menyangkut ruang pribadi manusia lain. Meskipun setiap orang berhak suka atau tidak suka terhadap sesuatu dan orang lain berhak pula merasa ingin tahu atau abai terhadap alasannya.
Sederhananya menurut saya, ketika manusia lahir berarti dia telah keluar dari cangkang pribadinya untuk bertemu dengan berbagai jenis manusia yang memiliki sifat dan sikap yang beragam pula. Terlebih lagi sebagai manusia modern yang hidup dengan begitu banyak akses komunikasi dan informasi, sedikit sekali kemungkinan untuk membangun ruang pribadi. contohnya begini, kita pergi ke suatu tempat seorang diri dengan alasan menikmati quality time tapi kita juga memposting itu di Media sosial kita, di Instagram, Facebook, Twitter, atau Whatsapp. Sesuatu hal yang menjadi paradoks bukan?
Hadirnya berbagai media sosial menjadikan kita secara sukarela berbagi sebagian dari kehidupan kita kepada orang-orang yang tidak kita kenal atau mengenal kita. dan karena itu kita menjadi terbiasa untuk meng-share apapun entah itu kehidupan kita yang sebenarnya atau kehidupan lain yang kita ciptakan di Avatar kita sendiri. Apa yang kita cari? Validasi orang lain? bukankah tidak mudah berperan sebagai dua tokoh ketika jauh dari pikiran dan perasaan yang paling dalam kita memiliki satu keinginan untuk menjadi diri kita sendiri.
Saya teringat dengan falsafah tiga monyet bijak yang saya baca dalam sebuah buku: tidak melihat yang buruk, tidak berbicara yang buruk, tidak mendengar yang buruk. Sebagai manusia yang diberkahi kekuatan pikiran, sudah seyogyanya untuk menggunakannya secara bijak. Ganti pemikiran kita yang awalnya sibuk mencari informasi tentang seseorang menjadi fokus memikirkan ide-ide, gagasan-gagasan agar hidup di dunia yang sebentar ini bisa menjadi lebih bermakna. kalau katanya filsuf Aristoteles manusia itu hidup untuk berbuat baik agar kebahagiaan yang virtue dapat terwujud.
~Ranti
(Dan lagi, apa yang tertulis adalah bahan renungan bagi penulis sebelum sampai kepada pembaca. Semoga semua makhluk berbahagia) 🌻
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar