Kasih yang tak pernah sudah

Etich of care atau bisa kita sebut etika kepedulian konon katanya hanya mampu diaktualisasikan secara sempurna oleh perempuan. sifat rahim yang dikultuskan menjadikan perempuan mahir dalam hal welas asih, mengasuh, menyembuhkan dan merawat. dan keseluruhan dari sifat pengasih dan penyayang itu secara sempurna termanifestasi kepada sosok ibu. selama hidup saya sampai usia 23 tahun yang merasa diri sudah cukup dewasa dan mampu mengambil keputusan-keputusan sendiri untuk hidup ternyata tak ubahnya hanya anak kecil yang terperangkap dalam cangkang tubuh dewasa.

beberapa hari yang lalu saya berada dalam kondisi yang tidak memungkingkan untuk mengambil makanan sendiri, bermusuhan dengan air, kedinginan di tengah hawa panas dan yah setelah sekian windu saya kembali merasakan yang namanya sakit. dan selama beberapa hari itu saya menyadari sesuatu bahwa sejatinya se-dewasa apapun kita menganggap diri kita sebenarnya kita hanyalah anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa dan dikondisi lemah itu yang paling kita butuhkan adalah dekap hangat seorang ibu. dan saya menyadari bahwa umur yang bertambah, berat badan yang berubah, wawasan yang meluas dan sudut pandang yang beragam tidak mengubah kenyataan bahwa ketika manusia berada dalam keadaan terpuruk dan tak berdaya yang ia cari adalah ibunya.

sangat wajar jika Nabi Muhammad SAW meninggikan tiga kali derajat seorang ibu sebelum ayah. saat seorang anak sedang sakit, seorang ibu akan menunda waktu makannya, melakukan aktivitas dua kali lebih esktra untuk merawat anaknya, selalu menanyakan apa yang anaknya ingin makan, mengusahakan agar anaknya bisa tertidur nyenyak tanpa rasa sakit dan rela mengambil alih semua rasa sakit untuk melihat anaknya sehat, makan dengan layak dan dapat beraktifitas seperti biasa. bagi seorang ibu, kita hanyalah seorang anak, medium untuk mencurahkan segala kuasa rahman dan rahim yang telah diberikan padanya.

jujur saya bukan anak yang bisa dengan leluasa menceritakan segala hal kepada orangtua khususnya ibu. semua permasalahan yang bisa saya selesaikan sendiri selalu saya usahakan untuk tidak menambah beban pikiran orang tua. ketika orangtua bertanya tentang aktivitas kampus yang saya lakukan biasanya hanya saya jawab seadanya. saya tidak tahu apakah kedua orangtua saya memiliki minat khusus untuk mengetahui dan mendengar cerita tentang aktivitas saya. beberapa hal yang secara serius saya sampaikan ke orangtua hanya persoalan uang kuliah yang harus dibayar selebihnya saya memilih untuk tidak membaginya.

sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana menjadi akrab dengan kedua orangtua, atau dalam keadaan ideal seperti apa seorang anak bisa dikatakan akrab dengan orangtua? setelah sekian lama saya kembali merasakan hangatnya pelukan seorang ibu di usia 23 tahun, mungkin bagi sebagian orang memeluk orangtuanya adalah perkara muda yang bisa dilakukan kapan saja, tapi bagi saya tidak dan itu juga bukan menjadi hal yang perlu untuk dibandingkan. mengetahui orangtua saya diam-diam mencari tahu aktivitas saya selama dikampus, sesekali menanyakan apakah saya ingin makan sesuatu, mendengar mereka membanggakan saya di depan keluarga yang lain, itu sudah lebih dari cukup, dan meskipun tidak bisa setiap saat memeluk ibu dan bapak, saya tetap bisa merasakan kehangatan saat melihat mereka. sesederhana itu..




Komentar

Postingan Populer