Review Buku: The Stranger

Albert Camus dengan buku berjudul The Stranger dengan jumlah 182 halaman ini berhasil mendobrak sisi moralitas dalam masyarakat. Buku yang menurut saya sangat jujur dan menyinggung telak kondisi manusia sekarang yang terlalu banyak mengurusi hidup orang lain. Albert Camus, menurut saya menyuguhkan cerita dengan begitu ciamik dan apa adanya. Tokoh utama dalam buku ini adalah pegawai kantor biasa yang menjalani kehidupan sebagaimana pegawai kantor lainnya; bangun pagi, berangkat ke kantor, makan siang, pulang kerja, dan melanjutkan aktivitas yang sama pada ke-esokan harinya.

Tokoh utama dalam buku ini yang bernama Meursault memiliki pandangan yang jauh berbeda dengan orang pada umumnya. Ia tidak mempedulikan apapun di luar dirinya dan tidak perlu merasa pusing dengan pendapat orang lain. Tentu sikap hidup semacam ini jarang dimiliki oleh manusia yang hidup di era digitalisasi sekarang. Di tengah arus digital di mana semua hal dapat diakses melalui internet, manusia seperti dipaksa untuk tahu kehidupan orang lain lewat foto atau video yang diunggah di media sosial.

Di bagian awal buku pembaca akan melihat gambaran sikap Meursault yang acuh tak acuh dengan kabar kematian ibunya. Ia bahkan lupa kapan tepatnya ibunya meninggal, tidak ada perasaan sedih sebagaimana seharusnya setiap orang bersikap jika mendengar kabar duka. Meursault menganggap bahwa kematian adalah siklus hidup yang sewajarnya dilalui setiap manusia, sehingga hal itu bukan menjadi alasan untuk dia merasa sedih. Aneh!!

Sikap dingin dan tidak peduli juga ditunjukkan oleh Meursault saat proses pemakaman ibunya, sebagai anak yang tinggal berjauhan tentu sikap yang seharusnya dilakukan adalah melihat wajah sang ibu untuk terakhir kali sebelum dimakamkan, tapi Meursault berbeda ia menolak melihat mendiang ibunya. Karena sikapnya ini orang-orang yang ikut serta dalam proses pemakaman menganggap ia anak yang berhati dingin dan tidak berbakti, ditambah lagi Meursault sama sekali tidak mengeluarkan air mata selama proses pemakaman dan hanya mengeluh sehingga semakin memperparah pandangan buruk orang-orang.

Meskipun penggambaran tokoh utama yang disajikan oleh Albert Camus sangat suram seakan-akan tidak memiliki emosi apapun tapi di bab-bab akhir buku ini ada kesan yang ingin disampaikan Camus tentang absurditas hidup. Setelah melewati banyak perkara sampai kemudian divonis mendapatkan hukuman mati, Meursault pada akhirnya bisa benar-benar hidup dengan menerima kondisinya. Ia mulai memaknai kembali kehidupannya sebelum dipenjara, memaknai kembali hubungannya dengan mendiang ibunya, kekasihnya, dah teman-temannya. 

Sampai akhir Meursault tidak sekalipun merasa menyesal akan kehidupannya yang pernah ia jalani. Ia menganggap bahwa hidup yang ia pilih itulah hidup yang pantas ia jalani. Meursault bilang: "Seseorang tidak pernah mengubah cara hidupnya; satu cara hidup akan sama baiknya dengan yang lain, dan cara hidupku sekarang ini sangat sesuai dengan diriku". Bagi Meursault satu-satunya cara untuk hidup adalah menghadapi hidup itu dengan berani tanpa takut akan kematian.

Sepertinya saya sudah terlalu banyak mengetik, silahkan untuk teman-teman membacanya sendiri dan membiarkan cerita dalam buku ini menampar kondisi hidup yang lebih banyak memberikan fokus pada apapun di luar diri.

Selamat merefleksi!!

Selamat membaca!! 

~rant🍀


Komentar

Postingan Populer