Menari bersama KATA

Memahami seseorang adalah sebuah perjalanan panjang dan proses belajar setiap hari. sebenarnya tidak ada keharusan untuk memahami orang lain, tapi bukankah menjadi bagian dari adab yang tidak tertulis untuk tidak membiarkan seseorang terluka dengan perkataan kita? kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa. kata-kata mampu membuat orang melambung bahagia, meningkatkan kepercayaan diri seseorang, atau membawa seseorang ke jam-jam yang terasa seperti memungut ingatan untuk menyusun mozaik yang asing dari kenangan, dan barangkali kekuatan kata-kata mampu menjadikan langit cerah seseorang berubah menjadi gemuruh dan dentuman petir.

Ketika berdiskusi dengan teman-teman, saya selalu berusaha agar apa yang saya sampaikan tidak menyakiti hati teman bicara saya, tidak membuat tersinggung, dan tidak terkesan menggurui. namun, meskipun hal seperti itu kerap kali saya antisipasi, begitu sampai di rumah saya memikirkan kembali dan sering sekali menyesali apa yang saya ucapkan. setelah melakukan riset kecil-kecilan tentang macam-macam kepribadian, zodiak, dan tes karakter, saya menyimpulkan bahwa karakter diri saya "Prefeksionis" kemungkinan karena hal itu saya sering kali ingin terlihat keren mulai dari penampilan, berbicara, dan cara berpikir, saya selalu berusaha untuk menjadi versi terbaik dari diri saya.

Aktivitas selama hampir empat tahun terakhir memang lebih banyak mengharuskan berkata-kata baik itu berbicara ataupun menulis. dan karena hal ini menjadikan saya lebih selektif dalam menggunakan kata-kata. kerap kali ketika diminta untuk membawakan materi, setelah selesai saya menanyakan kesalah satu teman apakah yang saya sampaikan itu mudah dicerna, jelas, atau justru terlalu berbelit-belit dan banyak pengulangan kata. karena itu saya selalu mengevaluasi, perasaan ingin selalu memberikan yang terbaik tertanam dalam diri. karena saya percaya kata-kata yang saya ucapkan ataupun yang saya tuliskan akan diserap oleh pendengar dan pembaca karena kata-kata apapun itu mempunyai nyawa dan hidupnya sendiri.

dalam buku "Matinya Kepakaran" karya Tom Nichols menjelaskan bahwa sekarang ini banyak orang-orang yang mencari tahu informasi hanya sebatas untuk mengetahui dan punya pendapat saja bukan karena benar-benar ingin mengonsumsi dan mengalami secara langsung, penulis buku ini menyebutnya pengetahuan palsu atau bisa disebut model baru ketidaktahuan. membaca penggalan buku Matinya Kepakaran seperti menampar saya. yahh tidak dielakkan bahwa saya juga termasuk salah satu manusia yang gemar mencari tahu hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu saya. dan karena itupun saya sadar bahwa belajar seyogiyanya adalah memahami dan mengaktualkan pengetahuan itu ke dalam diri. 

Ketika membaca buku, saya sering kali memberi penanda untuk kata-kata yang saya anggap menarik kemudian menuliskannya kembali dalam sebuah catatan. saya  tidak pernah menyangka bahwa magis dari sebuah kata-kata begitu menggugah seseorang dan mampu merubah secara drastis pikiran dan perilaku orang-orang yang membacanya. saya sering kali merasakan itu. buku pertama yang benar-benar merubah sudut pandang saya tentang kehidupan adalah buku Best Seller penulis Hanry Manampiring "Filosofi Teras". menjalani hidup yang selaras dengan alam dan dikotomi kendali. dua point itu yang saya selalu usahakan untuk terus teraktualisasi dalam proses hidup saya.

Saya ingat beberapa teman saya kerap bertanya, "Rant, bagaimana kamu bisa terlihat santai dalam setiap situasi?" "hidupmu terlihat menyenangkan, seperti tidak khawatir dengan masa depan, kok bisa begitu?' atau pernyataan "saya ingin seperti kamu rant, optimis dan enjoy menjalani hidup". mendengar pertanyaan dan pernyataan itu kadang muncul juga pertanyaan dalam benak saya, apakah benar yang nampak dari diri saya seperti itu?. selain buku Filosofi Teras, satu buku yang juga mengupgrade diri dan cara berpikir saya adalah buku "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodoamat" karya paling populer dari penulis Mark Manson. 

Dua buku tersebut ketika dijadikan referensi menjalani hidup menurut saya akan menjadikan manusia sebagai manusia. ketika menghadapi situasi sulit selalu ada pilihan dalam bersikap dan kita jadi tahu bahwa ada beberapa hal yang berada di luar kendali kita dan karenanya tidak ada keharusan memberikan tuntutan kepada orang lain. semakin banyak membaca, mendengar banyak perspektif orang lain dan mengalami langsung fenomena dalam masyarakat, bagi saya adalah cara-cara untuk sampai kepada aktualisasi diri yang autentik, dan menjadi altimatum kepada diri sendiri bahwa pengetahuan yang kita miliki harus meluas bukan meninggi, harus dibagi agar pengetahuan itu bisa memberi manfaat.


Semoga semua mahluk berbahagia❤




Komentar

Postingan Populer