Perayaan Sukacita

 


Balai Sidang Unismuh Makassar, 10 Oktober 2023 adalah hari dimana 1780 mahasiswa melepas status mahasiswanya disaksikan oleh masing-masing orangtua yang menangis haru, bangga, bahagia serta melangitkan satu lagi harapan untuk anak mereka agar bisa sukses dengan tambahan gelar di belakang namanya. saya yakin orangtua saya pun demikian. menjadi salah satu dari 8 mahasiswa yang ditunjuk untuk mewakili fakultas menjadi wisudawan terbaik tentunya menjadi kesyukuran yang paling luar biasa. sebelum sampai di titik ini, saya begitu sering mendengar berita simpang siur yang bilang  saya sengaja menunda wisuda supaya tidak ada lagi kandidat untuk menempati posisi wisudawan terbaik di fakultas. mendengar itu alih-alih merasa marah justru saya balas dengan guyonan dan meminta doa terbaik dari mereka hahah alhasil berkat ucapan-ucapan itu alhamdulillah pimpinan fakultas mempercayakan saya.

Saya tidak akan menampik kenyataan bahwa saya memang mengharapkan posisi itu, tapi siapa mahasiswa yang tidak tertarik menjadi wister? apa yang saya dapatkan ini adalah berkat doa-doa paling rahasia ibu bapak saya dengan Tuhan. satu keinginan saya yang paling sering saya aamiinkan adalah keinginan agar kedua orangtua saya bisa duduk dengan layak, tidak kepanasan dan nyaman menyaksikan saya dengan bangga pada saat proses wisuda. saya ingin dengan bangga menyebut nama mereka di atas podium saat sambutan dan itu dapat terwujud ketika saya menjadi wisudawan terbaik. saya selalu percaya doa-doa tulus yang dibarengi dengan ikhtiar akan di dengar oleh Tuhan. tepat pada 09 oktober 2023 saya akhirnya bisa menyebut nama kedua orangtua di atas panggung pada saat ramah tamah. 

dihari yang sama setelah ramah tamah begitu sampai di rumah saya disambut dengan tangis haru dan bangga dari keluarga saya, mereka tidak hentinya memeluk dan mencium serta mengatakan bahwa mereka bangga dengan saya. mendengar itu limpahan bahagia menguap keluar. nenek begitu antuasis menceritakan kalau bapak dan ibu menangis bahagia melihat video saat saya sambutan. ahhh Tuhan baik sekali. ketika saya berdoa untuk bisa membanggakan orangtua, Ia justru menyusupkan perasaan yang serupa keseluruh keluarga besar saya. melihat raut wajah dan antusias dari mereka saya benar-benar kehabisan kata untuk mendeskripsikan perasaan saya pada saat itu.

Bapak dan Ibu saya tidak pernah bilang kalau mereka mencintai saya tapi cinta itu dapat saya rasakan dari usaha yang tidak pernah sudah untuk memberikan apa yang saya minta. cinta mereka adalah paket air mata, keringat dan dedikasi untuk merangkul jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah untuk anaknya. sebagai anak tunggal, saya tidak pernah dibatasi dan tidak pernah menerima tuntutan untuk menjadi A, B, atau C. saya selalu melihat cemas dan khawatir di balik punggung mereka ketika saya bilang akan pulang tengah malam, atau saya sedang ada kegiatan selama beberapa hari. meski begitu yang terlontar dari mulut mereka bukanlah amarah tapi doa-doa yang senantiasa memeluk saya. 

Mengantongi percaya dari orangtua tentunya bukan hal yang mudah, karena kapan percaya itu tidak sengaja jatuh dan terpecah, saya tidak akan mampu merangkainya kembali. saya punya ingatan kecil tentang bagaimana senyum mekar di wajah ibu ketika saya pulang membawa tentengan berisi sertifikat, bagaimana antusias ibu mengatur sertifikat yang saya bawa untuk dipajang di dinding atau ekspresi serius bapak membaca tiap kata di sertifikat itu. melihat mereka begitu, saya ingin berlama-lama menikmati kebahagiaan sederhana itu, meski tidak ada ucapan langsung dari mulut mereka berucap bangga, tapi dari tindakan-tindakan kecil yang mereka lakukan justru sudah tergambarkan secara nyata dan bagi saya itu sudah lebih dari cukup.

Hari wisuda menjadi puncak dari perayaan sukacita seluruh anggota keluarga, mereka begitu semangat mempersiapkan baju seragam dan makanan untuk hari wisuda. ibu dan bapak duduk dengan nyaman di kursi khusus yang sudah disiapkan. intruksi awal yang disampaikan bahwa satu wisudawan hanya boleh membawa dua wali tapi karena kreativitas dari tante-tante saya mereka semua bisa masuk ke balai sidang untuk melihat proses wisuda secara langsung. Ibu dan bapak senang sekali bisa melihat dan berjabat tangan langsung dengan Pak Rektor. setelah prosesi wisuda selesai, di mobil tante-tante dan para sepupu saling pamer foto dan video yang mereka ambil pada saat saya menerima penghargaan. saya tahu mereka pasti capek tapi tawa bahagia memudarkan itu semua.

Menerima berlimpah cinta dan doa baik dari seluruh keluarga membuat saya yakin bahwa kasih yang tidak menuntut balas itu benar-benar ada. Bapak adalah punggung baja yang menahan segala hantaman kerasnya dunia, tangan ibu adalah tanah subur untuk menghidupkan segala sesuatu yang akan redup. perpaduan dari mereka menjadi oasis, bongkahan semangat, berton-ton kasih sayang yang akan selalu berlipat ganda. kelak ketika saya menjadi orangtua saya pun ingin memiliki punggung sekuat bapak dan tangan selembut ibu. semoga dihari-hari selanjutnya akan ada lagi kebanggaan kecil yang bisa saya susupkan ke relung hati mereka 💕

~rant

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer