Review Buku: Norwegian Wood (Haruki Murakami)
Haruki Murakami adalah seorang penulis Jepang yang karya-karyanya baru saya baca satu tahun terakhir, saya berkenalan pertama kali dengan penulis ini melalui bukunya “Lelaki-lelaki tanpa Perempuan”. Kata seorang teman yang lebih awal membaca Murakami menyampaikan bahwa tulisan-tulisan beliau memang bermain-main dalam wilayah kehampaan, kekosongan. Dan benar saja setelah membaca karya Haruki Murakami itu saya menjadi sangat akrab dengan perasaan hampa, kosong, dan tiba-tiba saja hilang selera dengan segala hal. Saya setidaknya butuh waktu tiga hari memulihkan perasaan saya. Hahaha benar-benar sensasi yang luar biasa menyesakkan dada.
Norwegian Wood adalah karya kedua Haruki Murakami yang saya baca dan hanya butuh empat hari untuk menyelesaikan buku ini. Berkisah tentang tokoh-tokoh yang mengalami kehilangan, gangguan mental, depresi, kesepian, bunuh diri, seksualitas dan juga penyembuhan. Buku ini ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama yang menurut saya sangat bagus, tidak heran kenapa banyak penulis yang merekomendasikan buku Norwegian Wood untuk dibaca sebelum memulai menulis. Sebelum masuk ke alur ceritanya saya ingin menyinggung tentang cara penulisan dari Haruki Murakami dalam buku ini. Saya takjub dengan cara penulis membawakan cerita dari masing-masing tokoh yang begitu luwes dan berciri khas. Dan juga yang menarik perhatian saya adalah bagaimana Haruki Murakami menyelipkan kondisi “Vaginismus” yang mungkin jarang diketahui oleh orang-orang khususnya perempuan.
Tokoh utama dalam buku ini adalah Toru Watanabe seorang pria dewasa yang mengenang kembali masa mudanya ketika mendengar lagu “Norwegian Wood” dari The Beatles. kisah percintaan Watanabe dengan Nauko dan Midori. Tokoh Nauko mengambil banyak porsi dalam buku. Dia digambarkan sebagai sosok perempuan misterius, introvert dan memiliki gangguan mental. Sedangkan tokoh Midori yang menurut saya menjadikan buku ini jauh lebih berwarna memiliki sifat yang ceria, terbuka, yah bisa dibilang kebalikan dari sifat Nauko. Dalam cerita ini kita akan menjumpai bagaimana proses grouw up dari setiap tokohnya yang mengalami depresi karena kejadian traumatis yang pernah mereka alami.
Toru Watanabe sendiri digambarkan sebagai sosok yang sangat datar dan mungkin bisa dikatakan tidak memiliki daya tarik terhadap apapun dan hidupnya monoton. namun yang jadi salah satu kelebihannya adalah dia tidak terlalu mempedulikan hal-hal di luar dirinya serta memiliki kesenangan yang lebih terhadap buku-buku. Kehidupan dari tokoh utama dalam buku ini berubah setelah kematian sahabatnya yakni Kizuki yang bunuh diri secara mendadak dan meninggalkan kekosongan dalam diri Watanabe dan akhirnya membawanya pada kehidupan bebas yang akrab dengan minuman keras dan seks.
Penggambaran dari kisah cinta antara Watanabe, Nauko dan Midori bagi saya berjalan dengan lambat namun sangat kompleks. Sosok Nauko memiliki porsi yang besar dalam kehidupan Watanabe, namun kisah cinta mereka tidak berjalan mulus karena Nauko yang belum bisa keluar dari kenangan masa lalunya bersama Kizuki. Bisa dibilang kondisi Watanabe dan Nauko adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan mesikpun telah berusaha untuk membawa Nauko ke kehidupan normal dan berjanji untuk hidup bersama, bunuh diri menjadi pilihan akhir yang diambil oleh tokoh Nauko.
Dari sisi seksualitas, menurut saya penulis Haruki Murakami benar-benar menyampaikannya secara terbuka. Semua tokoh dalam buku ini memiliki pengalaman seks yang menurut saya cukup ekstrim. Pertama dari tokoh Watanabe yang melakukan hubungan seks dengan Nauko yang merupakan pacar dari mendiang sahabatnya dan kerena pengalaman seksualitas itu membawanya kepada perasaan haus akan seks. Kemudian tokoh Nauko, selama berhubungan dengan Kizuki ia belum pernah melakukan seks dan pengalaman seks pertamanya justru dengan Watanabe namun setelah itu ia tidak ingin lagi melakukan hubungan seksual. dari pembacaan saya tokoh Nauko ini mengalami “Vaginismus” dimana ketika melakukan hubungan seks ia merasakan sakit yang berlebih dan kondisi dimana vagina tidak mengeluarkan cairan pelumas.
Selanjutnya tokoh Midori, imajinasi seksualitasnya benar-benar unik dan bagi saya menyenangkan. Sebagai perempuan saya sangat kagum dengan cara penggambaran Haruki Murakami terhadap sosok Midori ini. Pembawaannya yang cerita dan cara ia memahami keinginan dirinya sendiri adalah karakteristik yang tak terlupakan dan memberikan warna yang berbeda dalam buku Norwegian Wood. Kemudian Tokoh Reiko-san, kisah yang disampaikan benar-benar memilukan, pengalaman seksualitas yang berujung traumatis yang membuat kehidupan rumah tangganya berantakan dan membuatnya mengalami gangguan mental.
Lebih jauh, setiap tokoh dalam buku ini mengalami kehilangan dan perasaan nelangsa selama hidupnya. Mulai dari Watanabe yang ditinggal mati oleh Kizuki dan Nauko sahabat dan kekasihnya, Midori yang ditinggal mati oleh ayahnya dan penantian akan Watanabe yang cukup pelik, kemudian Reiko-san yang berpisah dengan suami dan anaknya serta kehampahaan setelah kematian Nauko. Menurut saya orang-orang yang sedang berada di fase-fase depresi sangat tidak dianjurkan untuk membaca buku ini. di akhir buku kita akan disuguhkan dengan proses berevolusi dari tokoh utamanya, sepeninggal Nauko kehidupan Watanabe berubah menjadi teater kehilangan, kehampaan dan rasa sakit, namun ia berhasil keluar dari kondisi mengenaskan itu dan menyadari kondisi realitas bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan dan orang yang hidup harus memikirkan semata-mata bagaimana melanjutkan hidup.
Berikut saya melampirkan kutipan-kutipan dari buku Norwegian Wood:
“Aku bukan orang pintar, untuk memahami sesuatu aku perlu waktu. tetapi kalau cukup waktu aku akan dapat memahamimu dengan baik, sehingga dapat mengerti dirimu lebih dari siapapun di dunia ini” h.10
“di dalam kehidupan, semuannya dan segalanya berputar mengitari kematian” h.36
“pertama-tama anda harus punya keinginan menolong seseorang. Kemudian anda pun harus berpikir bahwa anda sendiri harus ditolong seseorang. Kedua, jadilah orang yang jujur. Jangan berbohong dan jangan berpura-pura” h.144
“jangan tergesa-gesa.meskipun persoalannya sangat kusut berbelit-belit dan sulit ditangani, kamu tidak boleh putus-asa atau memaksakan diri untuk meluruskannya secara paksa dengan amarah. Kamu harus punya tekad untuk menyelesaikannya secara perlahan, urai satu demi satu” h.171
“kehidupan kita ini secara bersamaan menumbuhkan kematian. Tetapi ini hanya sebagian pelajaran yang harus kita pelajari. Kebenaran seperti apa pun, tidak mungkin bisa menyembuhkan kepedihan seseorang yang ditinggal mati kekasihnya” h.399
Yah, silahkan dibaca saja bukunya!!
-rant

.jpeg)

Komentar
Posting Komentar