Monolog kehidupan
Pikiran dan hati bekerja dengan cara yang berbeda. Pikiran bekerja dengan cara mengumpulkan dan menampung informasi baru, kemudian diproses dalam bentuk data untuk kemudian dibandingkan dengan data-data yang telah diperoleh sebelumnya dan membentuk suatu pemahaman yang baru. Sedangkan hati bekerja dengan mengumpulkan pengalaman. Kedua instrumen ini perlu untuk difungsikan secara seimbang. Pikiran perlu dipandu oleh hati agar ia tidak menjadi liar, sedangkan hati perlu beriringan dengan pikiran agar ia tidak mudah diperdaya.
Pemikiran akan selalu berkembang seiring dengan bertambahnya informasi-informasi yang kita serap dan juga dipengaruhi oleh apa yang telah kita lalui sebelumnya. Suatu waktu ketika saya berdialog dengan beberapa teman, tidak jarang saya takjub dengan cara berpikir mereka. Saya pernah bercerita tentang siklus hidup saya yang begitu-begitu saja, tidak bertambah dan tidak juga berkurang dan itu membawa saya ke perasaan jenuh. Dan respon teman saya sangat berbeda dengan apa yang saya prediksi ia bilang "justru rant, hidup yang begitu-begitu dan begini-begini saja itulah hidup yang layak untuk di jalani"
Awal mendengar itu saya cukup dibuat bingung. Lalu kemudian saya berpikir bahwa yah siklus hidup memang sudah seyogianya berjalan seperti itu, yang membuat itu menarik atau tidak tergantung dari sudut pandang dan cara setiap orang menjalaninya. ungkapan yang mengatakan bahwa segala hal punya waktunya masing-masing itu benar adanya. Seringkali saya merasa bergerak terlalu lambat, ketika banyak teman yang sudah lanjut S2, ada yang sudah jadi guru, ada yang jadi asdos, ada yang sudah menikah dan bahkan ada yang sudah punya dua anak. Sedangkan saya masih di tempat yang sama, lingkungan pergaulan tidak meluas. Karena itu aktivitas merutuki diri kian sering terjadi.
Pemikiran seperti itu saya alami selama dua minggu belakangan ini, dan itu benar-benar mengganggu aktivitas. Tapi seperti yang saya sampaikan di paragraf awal bahwa pikiran memiliki cara kerja yang berbeda dan itu dinamis. Hingga akhirnya saya sadar bahwa hidup kita dan hidup orang lain bukan ajang perlombaan dan juga bukan tentang siapa yang mencapai puncak lebih dulu, karena setiap orang punya rute hidup yang beda-beda dan medannya pun beda-beda. Dan dalam hidup kita tidak selalu harus berlari, kita juga bisa jalan.
Saya kemudian mengingat-ingat kembali bahwa sebenarnya hidup yang saya kira menjenuhkan ini ternyata tetap bergerak dinamis. Mulai dari kesadaran spiritual yang perlahan terjaga, pembicaraan yang tidak bermanfaat sudah berkurang, waktu membaca lebih banyak, evaluasi bacaan dengan menulis juga lapang dan perlahan bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri. Hal-hal ini yang awalnya tidak saya sadari sepenuhnya sehingga merasa stagnan dan merasa tidak ada yang berubah.
Mungkin saja orang-orang yang sudah bergerak cepat sudah punya stamina yang prima dan bekal yang cukup. Sedangkan yang bergerak lambat mungkin saja sedang mempersiapkan bekal yang memadai untuk kemudian bergerak cepat juga. Barangkali setiap dari kita hanya perlu merasa cukup. saya teringat salah satu konten YouTube yang narasumbernya bilang bahwa "menjadi secukupnya itu bisa buat kita legah" karena dengan porsi yang pas kita tidak perlu merasa kurang atau merasa lebih.
Menjadi secukupnya menurut saya itu melibatkan kerja hati yang lebih, dengan merangkum seluruh pengalaman yang pernah dilalui saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa selalu ada waktu yang tepat untuk sesuatu dan hidup dengan terburu-buru itu tidak menyenangkan, yang penting dilakukan adalah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan matang. dan yang paling penting untuk tetap waras di dunia yang chaos ini, kita perlu hidup dengan bahagia.
~rant
Semoga semua makhluk berbahagia 😊🌾
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar