RUMAH KERTAS: cinta, obsesi, dan kritik untuk dunia sastra
Sebagai pembaca kita semua sepertinya sudah akrab dengan ungkapan yang mengatakan "Cukup temukan satu buku untuk jatuh cinta pada membaca". Jadi, sudahkah kalian menemukan buku itu? Saya sendiri bertemu buku yang merubah sudut pandang saya tentang dunia literasi yakni "Rumah Kertas" sebuah buku terjemahan yang ditulis oleh Carlos Maria Dominguez seorang penulis dari Buenos Aires, Argentina.
Tahun 2019 lalu, ketika aktivitas menjelajahi toko-toko buku di dekat universitas selama menjadi mahasiswa masih menjadi rutinitas, saya tidak sengaja bertemu dengan buku yang covernya sangat menarik karena mengilustrasikan sebuah wajah yang terbuat dari tumpukan buku. Rumah Kertas ini hanya berjumlah 76 halaman, buku tipis yang bisa dibawah kemana-mana dan tepat setelah menyelesaikan buku ini, saya dihantui pemikiran seorang bibliofil selama seminggu.
Di halaman pertama pembaca akan langsung disuguhkan dengan kisah seorang profesor yang meninggal tertabrak mobil saat sedang membaca buku. Awalnya saya ngeri juga, karena baru di halaman pembuka sudah membahas tentang kematian. Banyak kejadian yang dapat merenggut nyawa seseorang yang melibatkan buku-buku. Maka sangat tidak heran ketika orang-orang dulu menganggap bahwa 'buku itu berbahaya'.
Setelah kematian profesor Bluma, sebuah buku misterius muncul yang menjadi awal dari perjalanan tokoh 'Aku' untuk menyelami sejarah hidup sang profesor dan menyaksikan para bibliofil yang memiliki kecintaan mendalam akan buku-buku. Secara garis besar Rumah Kertas tidak hanya menceritakan dunia sastra, namun juga sarat akan kritik sosial. Sehingga dibaca berulang-ulang pun novel ini akan selalu relevan dengan kondisi disetiap zaman.
Setiap buku memiliki momennya masing-masing, buku pertama yang kita baca saat kecil, buku yang kita baca saat remaja, dan buku-buku yang kita baca dimomen penting kehidupan kita akan menjadi batu bata penyusun kehidupan itu sendiri. Meskipun hanya dibaca satu kali seumur hidup, sangat sulit untuk membuang buku-buku tersebut karena dianggap telah menjadi saksi bagi momen hidup kita yang takkan pernah terjumpai lagi. Banyak pembaca yang menulis nama di cover buku, tahun mereka membeli buku hanya untuk merawat kembali ingatan tentang kisah di balik buku tersebut.
Di halaman ke-10, Dominguez memberikan kritik sosial yang menyinggung telak manusia, kesombongan menjadi pertunjukan sehari-hari yang lumrah kita temukan, dengan gaya merendah untuk menuai pujian:
"kita pajang buku-buku kita ibarat otak kita sedang dikuak lebar-lebar untuk diteliti, sambil mengutarakan alasan-alasan omong kosong dan basa-basi sok merendah soal jumlah koleksi yang tak seberapa"
Mengecilkan hal-hal yang nyatanya besar juga bagian dari kesombongan, seperti salah satu profesor sekaligus bibliofil yang ditemui oleh tokoh 'aku' mengungkapkan bahwa jumlah koleksi bukunya tak seberapa padahal seluruh rumahnya dipenuhi oleh rak-rak buku. Pada bagian ini penulis Dominguez seolah menunjukkan bentuk baru dari kesombongan. Selain itu kritik terhadap apresiasi sastra juga disampaikan secara blak-blakan, berikut kutipannya:
"memilih penerbit-penerbit kecil yang memperlakukan naskahmu dengan sungguh-sungguh,atau bersinar terang selama sebulan dengan penerbit besar lantas lenyap bak bintang jatuh dari deretan buku baru.. ada bintang-bintang yang menyilaukan di pesta sastra, orang-orang yang jadi kaya raya dalam semalam berkat buku-buku payah, yang dipromosikan habis-habisan oleh penerbitnya, di suplemen-suplemen koran, melalui pemasaran, anugerah-anugerah sastra, film-film acakadut, dan kaca pajang toko-toko buku yang perlu dibayar demi ruang untuk tampil menonjol". (Halaman 15-16)
Penulis Dominguez lewat ungkapan tersebut menyampaikan bahwa apresiasi sastra tak ubahnya kampanye politik, segala hal dilakukan untuk mencapai status terpandang. Tolak ukur kelayakan sastra seringkali hanya dilihat dari penerbitnya entah itu mayor atau indie, tanpa memperhatikan gagasan yang ada dalam buku tersebut dan mengesampingkan pengalaman dari menulis itu sendiri. Hal ini tentunya memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan kesusastraan.
Terlepas dari kritik-kritik yang dikemukakan oleh Dominguez, obsesi akan buku-buku yang begitu kental disajikan. Ada dua golongan pembaca buku: pertama, adalah kolektor buku yang mengumpulkan berbagai jenis buku, gendre buku, yang meskipun tidak mereka baca, hanya sebagai bentuk kekaguman akan hal-hal yang mereka anggap indah. Kedua, kutu buku yang melahap banyak bacaan, pecinta buku tulen yang tidak tanggung-tanggung menghabiskan uang untuk membeli buku dan mendedikasikan waktunya selama berjam-jam untuk mempelajari dan memahami buku tersebut.
Di pertengahan sampai akhir buku penggambaran tak masuk akal dari penulis Dominguez tentang salah satu kolektor buku yakni Carlos Brauer yang saking terobsesinya sampai-sampai melakukan tindakan irasional seperti meminum teh dan bercakap-cakap dengan tumpukan buku yang disusun sedemikian rupa di atas kursi dan menyusun bukunya di atas tempat tidur menyerupai bentuk manusia. Setelah membaca itu muncul pertanyaan dalam kepala saya, apakah kecintaan berlebih terhadap sesuatu dapat membuat seseorang menjadi gila?
Selain itu, bagian paling sentimental lainnya ketika Carlos Brauer yang kehilangan indeks bukunya karena kebakaran membuat kehidupannya kian berantakan. Bagi seorang bibliofil setiap buku-buku menyimpan kisah perjalanan hidupnya, dan ketika ingin memutar kembali ingatan akan kenangan tersebut cukup buka kembali buku itu. Indeks memudahkan agar susunan setiap kenangan di dalam buku tidak tertukar. Sehingga ketika indeks itu hilang maka susunan kenangannya pun ikut hilang. Dari kian banyak buku yang ada dirak, kau ingin mengenang kembali wajah ibumu tapi buku yang kau ambil justru berisi kenangan sepatu lusuh yang pertama kali dibelikan oleh ayahmu.
Bagi Carlos Brauer kehilangan indeks sama dengan kehilangan setiap kenangan hidupnya. Sehingga pilihan terakhir yang ia lakukan adalah membangun rumah dengan semua buku yang ia miliki di tepi pantai, yang akhirnya menjadi judul buku ini "Rumah Kertas". Buku kecil ini berhasil menyajikan gagasan kritis tentang dunia sastra. Sangat layak dibaca berkali-kali. Menemukan buku ini bagi saya ada oase memasuki perjalanan baru di dunia buku-buku.
~selamat membaca~
semoga semua mahluk berbahagia 😊
#rant
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar