Gadis Minimarket: Peliknya Standarisasi Kenormalan
Pernahkah pembaca sekalian memikirkan apakah kehidupan yang dijalani selama ini sudah normal? atau barangkali riders pernah menetapkan standar hidup normal untuk diri sendiri?. Kali ini saya ingin mengajak para pembaca untuk berkenalan dengan sosok Keiko Furukawa yang selama hidupnya terus mencari jawaban dari pertanyaan "bagaimana menjalani hidup yang normal?"
Gadis Minimarket adalah buku terjemahan Jepang dengan judul asli Konbini Ningen yang ditulis oleh Sayaka Murata. Sejak kemunculannya buku ini menjadi sangat populer, sudah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa di seluruh dunia dan memenangkan berbagai penghargaan. Novel yang tebalnya hanya 160 halaman ini bisa diselesaikan dengan satu kali duduk, mengambil tema slice of life yang menceritakan kehidupan sang tokoh utama, meski minim konflik dan alur cerita sederhana novel Gadis Minimarket ini punya keunikan dan sisi absurd yang membuat pembaca ketagihan.
Standarisasi hidup normal pada masyarakat Jepang di ukur oleh dua hal yakni pernikahan dan pekerjaan, karena hal tersebut orang-orang yang tidak sesuai dengan standar itu akan dianggap abnormal dan aneh. Keiko Furukawa menjadi korban dari peliknya standar masyarakat yang mengharuskan dirinya agar memiliki kehidupan ideal seperti mayoritas mulai dari kehidupan rumah tangga, pekerjaan, cara bersikap dan bersosialisasi. Sejak kecil Keiko sudah dianggap aneh oleh lingkungan sekitarnya karena minim emosi dan memiliki pemikiran yang berbeda dengan anak-anak seusianya bahkan keluarganya pun menganggap bahwa Keiko ini harus "disembuhkan".
Sikap dan pemikiran yang berbeda dari kebanyakan orang membuat Keiko menjalani kehidupan remajanya dengan sangat minimalis, hanya berbicara secukupnya dan lebih membatasi interaksi sosial agar tidak lagi dicap sebagai orang aneh. Memasuki usia dewasa, Keiko tidak sengaja menemukan minimarket yang baru selesai dibangun, kemudian memutuskan untuk bekerja di sana. di tempat ini Keiko merasa menemukan identitas baru sebagai "Pegawai Minimarket" dan berpikir bahwa dirinya sudah menjalani kehidupan normal. respon yang diberikan oleh keluarganya pun positif ibu dan saudaranya menganggap Keiko sudah mulai "sembuh".
Dedikasi delapan belas tahun bekerja di minimarket membuat Keiko Furukawa merasa bisa mendengar 'suara' minimarket. Sebagai pembaca saya sangat menikmati deskripsi kondisi minimarket yang dijelaskan dengan sangat detail oleh penulis, karena itu para riders bisa menyelami 'suara minimarket' yang dimaksudkan oleh si tokoh utama. Kecintaan Keiko Furukawa dengan pekerjaannya memberikan makna kepada pembaca bahwa pekerjaan yang "biasa-biasa" saja bagi orang lain tetap harus dilakukan dengan baik dan sungguh-sungguh.
Kembali ke cerita, kehidupan normal Keiko sebagai pegawai Minimarket tidak bertahan lama, bagi orang-orang Jepang mereka yang berusia 30an sudah seharusnya memiliki pekerjaan tetap dan sudah menikah. Karena hal tersebut Keiko kembali dianggap tidak normal oleh teman-teman dan keluarganya. Pertanyaan kenapa di usia tiga puluh enam tahun masih belum menikah? Kenapa masih bekerja paruh waktu? adalah dua pertanyaan yang selalu di dengar Keiko setiap harinya.
Mayoritas masyarakat cenderung akan menyisihkan orang-orang yang memiliki sikap hidup yang berbeda. Menjadi berbeda di tengah masyarakat akan dianggap aneh dan karena itu semua orang tanpa sungkan merasa berhak ikut campur atas pilihan-pilihan hidup yang kita buat.
"Hanya karena aku minoritas dengan gampangnya mereka ingin memerkosa hidupku" (ucap Keiko)
Ia sangat membenci standar hidup yang selalu dibicarakan orang-orang, menurut Keiko kehidupannya yang sekarang sudah menyenangkan, punya rumah dan pekerjaan itu sudah sangat cukup.
Apa yang dialami oleh si tokoh utama bisa jadi sangat relevan dengan sebagian besar orang, bagi saya sendiri konflik "hidup ideal" juga dilanggengkan oleh masyarakat Indonesia. Tuntunan yang berubah-ubah, pertanyaan-pertanyaan mengenai sikap hidup seseorang seakan menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas, patokan kesuksesan yang ingin diseragamkan menjadi mimpi buruk bagi orang-orang yang memilih untuk hidup sederhana dan betolak dengan sistem.
Ada satu scene yang menurut saya sangat absurd di mana Keiko ini melakukan transaksi dengan laki-laki bermana Shiraha, sosok Shiraha ini juga sangat membenci masyarakat ia menganggap bahwa masyarakat modern sama saja dengan manusia-manusia yang hidup di Zaman Purba hanya yang kuat yang akan diberikan tempat sedangkan yang lemah akan disingkirkan karena itu ia ingin terlepas dari interaksi sosial dengan manusia, ia ingin Keiko 'memelihara'nya dan menyembunyikannya dari orang-orang dan imbalannya Keiko bisa memberitahu kepada kerabatnya bahwa ia sudah memiliki pasangan sehingga satu dari dua pertanyaan yang paling sering dilontarkan kepadanya sudah memiliki jawaban. Benar-benar absurd kan hahah.
Lewat percakapan antara Keiko dan Shiraha pembaca bisa menemukan makna kenormalan dan ketidaknormalan serta menyadari bahwa orang-orang yang merasa hidupnya dilanggar oleh orang lain cenderung akan melakukan hal yang sama seperti apa yang diterimanya. Membaca Gadis Minimarket membuat saya berpikir bahwa memiliki pegangan hidup menjadi hal yang penting agar kita tidak tergerus oleh tuntutan tidak masuk akal yang dilekatkan oleh setiap individu. Memiliki prinsip hidup menjadikan setiap orang bisa menjalani kehidupan dengan baik dan gembira. Tapi yang perlu digaris bawahi adalah prinsip hidup kita jangan dipaksakan kepada orang lain.
Sebagai kalimat penutup, saya merekomendasikan Gadis Minimarket setidaknya dibaca sekali seumur hidup. Novel yang sarat akan satire dan kritik sosial ini bisa menjadi refleksi dalam menjalani kehidupan dan pengingat bagaimana seharusnya seseorang bersikap jika menemukan orang lain yang memiliki pilihan hidup yang unik dan berbeda. Selamat membaca..
~rant
Mei 2024
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar