Menjadi Calon Ibu Cerdas dengan Memahami Gender Equality

“Perempuan manusia adalah bagian dari hidup, yang artinya perubahan tidak akan terjadi tanpa melibatkan perempuan”
-Dr. Nawal El-Saadawi (Tokoh Feminisme)

Perempuan adalah individu merdeka yang memiliki hak yang sama dengan laki-laki baik dalam ranah sosial, politik, kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. Perempuan memiliki peran yang sangat luar biasa dalam membangun suatu bangsa, jika melihat sejarah Kemerdekaan Negara Republik Indonesia rekam jejak peran perempuan seperti Dewi Sartika, R.A Kartini, Cut Nyak Dhien, dan beberapa tokoh perempuan lainnya membuktikan bahwa perempuan adalah individu cerdas yang harus diberikan ruang untuk mengaktualkan potensinya. Pada era digital ini kita melihat bahwa peran perempuan pada ranah publik sudah semakin nampak. Di kota-kota besar telah banyak dijumpai perempuan bekerja di perusahaan bahkan di sektor pemerintahan, hal ini menjadi gambaran bahwa peran perempuan tidak hanya berada pada wilayah domestik saja. Mewujudkan peran perempuan dalam membangun sumber daya manusia dalam suatu masyarakat tentunya dibutuhkan adanya proses pemberdayaan agar setiap perempuan dapat meningkatkan kemampuan serta potensinya.

Kondisi masyarakat perkotaan dimana perempuan sudah berperan aktif dalam ranah publik jauh berbeda dengan kondisi masyarakat di pedesaan yang masih memegang pemikiran konvensional bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena ujung-ujungnya akan jadi ibu rumah tangga. Pemikiran seperti itu yang perlu dihilangkan di tengah-tengah masyarakat karena rendahnya pendidikan akan berdampak pada kasus pernikahan dini. Hal ini dapat dilihat dalam data kasus pernikahan dini yang dimuat dalam Badan Pusat Statistik (BPS) edisi 2020 yang menyatakan bahwa pada tahun 2018, 1 dari 9 anak perempuan di Indonesia melakukan pernikahan dibawah umur. Perempuan umur 20-24 tahun yang menikah sebelum berusia 18 tahun pada tahun 2018 diperkirakan mencapai sekitar 1.220.900 dan angka ini menempatkan Indonesia pada 10 negara dengan angka absolut perkawinan anak tertinggi di dunia.

Perkawinan anak berhubungan dengan berbagai faktor yang dapat bersifat struktural maupun yang berasal dari komunitas, keluarga, maupun kapasitas individual. Temuan yang saya dapatkan dari studi literatur memperlihatkan bahwa anak yang lebih rentan terhadap perkawinan anak adalah anak perempuan, anak yang tinggal di keluarga miskin, di perdesaan, dan memiliki pendidikan rendah. Pekerja perempuan usia 18 tahun ke bawah lebih mungkin untuk bekerja di sektor informal dan karenanya menjadi lebih rentan apabila dibandingkan dengan perempuan dalam kelompok umur yang sama yang menikah setelah 18 tahun dan bekerja.

Kekhawatiran masyarakat mengenai praktik perkawinan anak berkaitan dengan fakta bahwa perkawinan anak melanggar hak asasi anak, membatasi pilihan dan peluang mereka, dan membuat mereka rentan terhadap kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan. Maraknya kasus asusila yang korbannya lebih banyak perempuan disebabkan oleh kurangnya edukasi mengenai kesetaraan gender di tengah masyarakat bahwa anak laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam memperoleh kesempatan untuk berpendidikan, dan aktif dalam pembangunan sosial masyarakat. Perempuan yang cerdas tentunya akan melahirkan generasi-generasi yang cerdas pula, mendidik seorang pria sama dengan mendidik anak manusia, tapi mendidik seorang perempuan maka sama dengan mendidik suatu bangsa.

Gender Equality dan Persamaan Hak Laki-Laki dan Perempuan

Mengapa gagasan tentang Gender Equality menjadi penting untuk dibahas? Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setengah populasi dunia adalah perempuan dan banyak kasus-kasus kejahatan yang korbannya adalah perempuan. Perempuan masih belum memiliki akses yang sepadan dengan laki-laki baik itu dalam kesehatan, pendidikan, partisipasi di bidang politik dan ekonomi. Selain itu banyak sekali kasus-kasus bias gender yang mendiskreditkan perempuan. KMPPP mendefinisikan bahwa gender adalah pembedaan peran, atribut, sifat, sikap, dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Dan peran gender terbagi menjadi peran produktif, peran reproduksi, serta peran sosial masyarakat. Sedangkan Equality jika diterjemahakan dalam bahasa indonesia berarti persamaan.

Gender Equality atau kesetaraan gender merupakan pemberihan hak, kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki kondisi yang setara untuk mewujudkan secara penuh hak-hak asasi dan potensinya bagi pembangunan disegala bidang kehidupan. Perlunya pemahaman tentang Gender Equality menjadi penting agar tidak ada lagi kasus-kasus yang bias gender. Diikutip oleh Fatimah (2016) menyebutkan bahwa kesetaraan gender memberi kesempatan baik pada perempuan maupun laki-laki untuk secara setara/sama/sebanding menikmati hak-haknya sebagai manusia, secara sosial mempunyai benda-benda, kesempatan, sumberdaya, dan menikmati manfaat dari hasil pembangunan. Hal ini juga menjadi tujuan dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang memiliki sasaran untuk mengakhiri segala bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan di mana pun.

Wacana mengenai gender equality sudah menjadi isu global dan menjadi salah satu tujuan SDGs yang kelima yaitu mencapai kesetaraan gender dan memperdayakan kaum perempuan. Namun masih banyak kasus diskriminasi, kekerasan, pelecehan, dan eskploitasi berdasarkan gender dijumpai di berbagai belahan dunia dan korbannya lebih banyak perempuan dan anak-anak. Perempuan dan anak-anak menanggung beban yang sangat berat akibat adanya ketidaksetaraan yang terjadi. Sepanjang tahun 2023 Komnas Perempuan, Lembaga Layanan dan Badan Peradilan Agama (BADILAG) mencatat bahwa ada 401.975 kasus kekerasan seksual dimana sebagian besar kasusnya adalah kekerasan berbasis gender dan dari data tersebut menunjukkan bahwa pelaku kekerasan seksual adalah orang-orang terdekat dari korban. Kekerasan yang menimpa perempuan tentunya menjadi tanggung jawab semua pihak dimulai dari penyediaan fasilitas pengaduan yang ramah korban, edukasi pendidikan seks, serta memperkuat proteksi keamanan layanan fasilitas umum untuk perempuan.

Menciptakan Peran Perempuan yang Aktif dan Progresif

Hadirnya gender equality tentunya adalah upaya menghapuskan segala tindak kekerasan dan eksploitasi yang merugikan laki-laki dan perempuan. Selain itu, akan memperkuat keadaan suatu negara dengan membantu mengurangi angka kemiskinan dan akan meningkatkan taraf hidup masyarakat sebab adanya pemberdayaan akan memberikan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan perempuan dalam setiap sektor. Pemahaman tentang gender equality juga merupakan usaha untuk meningkatkan kesadaran terhadap anggota keluarga bahwa pemenuhan hak setiap anak perlu disetarakan. Keluarga yang memiliki wawasan mengenai gender akan memberikan ruang gerak bagi setiap anak laki-laki dan perempuan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Jika wacana mengenai kesetaraan gender sudah mampu direalisasikan secara merata hal itu akan membuka kemerdekaan kaum perempuan dalam mengembangkan kreativitas yang dimiliki. Hal yang paling penting adalah menghilangkan kultur patriarki di tengah-tengah masyarakat agar tidak ada lagi membatasan terhadap perempuan.

Pembatasan terhadap perempuan diakibatkan karena pandangan masyarakat yang masih melanggengkan perbedaan gender dan semakin diperkuat oleh adanya konstruksi budaya serta dogma agama yang disalah tafsirkan dalam masyarakat. Karena hal tersebut salah satu tokoh feminis dan juga penulis buku Second Sex Simone de Beavoir menggambarkan bahwa perempuan tersubordinasikan oleh laki-laki dan menggambarkan bahwa perempuan dianggap sebagai ‘jenis kelamin kedua’. Hal ini tentu tidak lepas dari melekatnya paham-paham patriarki yang dikembangkan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, dalam mewujudkan peran perempuan yang aktif dalam setiap sektor baik ekonomi, politik, sosial, ekonomi, dan pendidikan diperlukan langkah yang tegas terhadap penyamarataan pemberian ruang, upah, kesempatan yang sama terhadap laki-laki dan perempuan agar tidak ada lagi bentuk diskriminasi, eksploitasi, pelecehan, dan kekerasan sehingga dapat terwujud kesejahteraan dan keharmonisan sebab manusia adalah individu yang memiliki kebebasan untuk mengembangkan kualitas dirinya. 

Menciptakan Calon Ibu yang Cerdas dan Tangguh untuk masa Depan

Mewujudkan generasi yang berkualitas dan memiliki daya saing di dunia luar tentunya dibutuhkan sosok-sosok calon ibu yang cerdas. Banyak penelitian yang mengungkap bahwa kecerdasan seorang anak itu lebih banyak diperoleh dari ibunya, hal ini semakin menguatkan bahwa peran seorang perempuan dalam membangun suatu bangsa sangat diperlukan. Bagaimana cara menciptakan calon ibu yang cerdas dan tangguh? menurut saya setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, memberikan kesempatan kepada setiap perempuan untuk meningkatkan kualitas dirinya dengan memberikan ruang-ruang diskusi untuk mereka saling bertukar pikiran dan mewujudkan ide-ide yang dimilikinya. Kedua, menghapus kultur patriarki ditengah masyarakat yang mendiskriminasi perempuan. Ketiga, memberikan akses pendidikan yang aman dan layak kepada perempuan salah satunya dengan menyediakan beasiswa agar perempuan dari keluarga yang tidak mampu dan terkendala dengan biaya dapat melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi. Menciptakan peradaban yang sejahtera dan harmonis maka yang perlu diubah adalah pemikiran masyarakatnya dan cara mengubahnya tentu dengan pendidikan.

Maka dari itu dengan adanya pemberdayaan perempuan dengan memberikan edukasi Gender Equality akan meningkatkan peran perempuan dalam segala sektor, membantu para perempuan untuk mengembangkan kreativitasnya dan mengaktualkan gagasannya. Selain itu, dengan adanya edukasi Gender Equality pemahaman masyarakat tentang hak dan kewajiban baik laki-laki maupun perempuan harus diberikan secara adil tanpa ada lagi kasus-kasus diskriminasi. Jika pemahaman tentang gender sudah diketahui oleh masyarakat luas maka akan meminimalisir adanya tindakan yang melanggar hak asasi manusia yang korbannya adalah perempuan. Gender equality membantu laki-laki perempuan untuk mendapatkan hak-haknya secara utuh, menciptakan kondisi masyarakat yang sejahterah, meningkatkan pembangunan dan ekonomi sebab hadirnya gender equality maka laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama dalam setiap lini kehidupan. 

#essay #perempuan #genderequality


selamat membaca ❤
~rant

Komentar

Postingan Populer