Review Buku: Pengakuan Eks Parasit Lajang

2021 adalah tahun pertama saya berkenalan dengan karya-karya Ayu Utami diawali oleh Saman dan Larung mengangkat tema seksualitas dipadukan dengan aspek spiritualitas dan corak budaya. Karya-karya Ayu Utami sangat tegas dan berani membicarakan hal-hal yang dianggap tabu oleh masyarakat khususnya yang menyangkut tentang seksualitas. Meski disajikan dalam bentuk novel tapi dari segi penuturan para tokohnya dapat dirasakan bahwa ada kedalaman riset sebelum karya tersebut sampai kepada pembaca.

Buku ketiga dari Ayu Utami yang baru saya baca tahun ini adalah Pengakuan: Eks Parasit Lajang. Sebenarnya novel ini merupakan trilogi yang buku pertamanya 'Si Parasit Lajang' buku kedua 'Cerita Cinta Enrico' dan Pengakuan: Eks Parasit Lajang menjadi buku ketiga. Buku ini adalah otobiografi seksualitas dan spritualitas, dua tema yang selalu ada dalam karya-karya Ayu Utami. Bercerita tentang kehidupan tokoh A seorang perempuan yang memutuskan melepas keperawanannya pada usia duapuluh tahun sebagai bentuk perlawanan terhadap konsep keperawanan yang menurutnya tidak adil.

Membaca setiap bab dalam buku ini menggiring pembaca untuk terlibat dalam perjalanan kesadaran dari tokoh A untuk melawan nilai-nilai adat, agama, dan hukum yang patriarkal. Sejak kecil tokoh A melihat bahwa dalam lingkungan keluarganya yang mendominasi adalah bahasa patriarki seperti kekuasaan dan kekerasan kondisi ini didukung oleh konsepsi adat dan juga agama yang dianutnya bahwa laki-laki dalam hal ini sebagai kepala keluarga berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan istri dan anak.

Dari segi seksualitas Ayu Utami secara blak-blakan mengkritisi konsep keperawanan yang mengakar dalam masyarakat. Perempuan yang mampu menjaga keperawanannya sampai menikah adalah orang yang suci sedangkan perempuan yang sebelum menikah sudah pecah perawan dianggap perempuan sundal. Selaput darah seakan-akan dijadikan patokan untuk menilai seseorang perempuan baik atau tidak, menjadikannya standar moralitas. Hal ini membuat tokoh A memilih jalan hidupnya sendiri dengan menghapus kata selaput darah dalam sistem nilainya. Ia menganggap bahwa seorang perempuan tidak seharusnya dilekatkan nilai selaput darah yang belum diketahui secara pasti apakah itu benar-benar ada atau tidak. Ada ungkapan dari tokoh A yang menurut saya sangat percaya diri:

"Menjelang duapuluh tahun aku sudah menghapus kata selaput darah dari sistem nilaiku. Kalau suamiku kelak menolak aku karena itu, maka sudah layak dan sepantasnya aku juga menolak manusia seperti itu untuk hidup bersamaku"

Bahasan tentang hubungan seksualitas antara laki-laki dan perempuan juga tidak lepas dari tertanamnya nilai-nilai patriarki dalam masyarakat. Dalam melakukan seks lelaki dipandang harus mampu membuat perempuannya mengalami orgasme/klimaks hal ini menjadi bentuk pembuktian maskulinitas, karenanya banyak perempuan yang memalsukan orgasmenya hanya untuk menyenangkan ego laki-laki. Dalam hal ini Ayu Utami menjelaskan bahwa sebenarnya perempuan sendirilah yang bisa mengetahui bagian G-Spotnya, sehingga jika berhubungan seks yang terjadi adalah proses menuntun agar keduanya mendapatkan kenikmatan yang setara.

Mengenai perkawinan Ayu Utami menyajikan banyak sekali alasan mengapa iya menolak pernikahan. Meskipun diakhir perjalanan kesadarannya ia memutuskan untuk menikah secara agama. Dalam novel ini tokoh A menganggap bahwa pernikahan adalah bentuk penindasan karena perempuan diharuskan untuk tunduk dan patuh kepada laki-laki. Contohnya pernikahan dalam adat Jawa yang salah satu prosesinya mengharuskan pihak perempuan membasuh kaki dari pihak laki-laki sebagai tanda penerimaan dan melayani. Tokoh A menganggap hal tersebut tidak adil, harusnya setiap proses harus dilakukan secara setara baik oleh pihak laki-laki maupun perempuan.

Selain itu, Ayu Utami juga mengkritisi perilaku poligami yang sekarang ini marak dilakukan dalam masyarakat. Orang-orang yang berpoligami dengan alasan agar tidak berdosa, agar perbuatannya sah justru menunjukkan derajat keserakahan. Mereka rela menyakiti hati istri pertamanya hanya untuk mendapatkan kenikmatan dan sekaligus lepas dari beban moral dan dosa. Apalagi sudah ditambah embel-embel bahwa surga menanti untuk istri-istri yang rela membiarkan suaminya untuk menikah lagi. Bagi saya pribadi meskipun hukum berpoligami sudah disebutkan dalam Al-Qur'an namun perlu adanya pengkajian history mengapa ayat tersebut diturunkan.

Tokoh A bilang: "Dalam hubungan yang memanusiakan, orang tidak pergi karena ada yang lebih menggairahkan atau menjanjikan. Orang mencoba untuk setia"

Kemudian dari segi spritualitas, disini pembaca akan melihat pergolakan spritual dari tokoh A. Sebagai penganut agama katolik ia menganggap bahwa ada nilai-nilai yang dia anut bersebrangan dengan nilai-nilai di gereja. Tokoh A memandang bahwa di gerejalah sebenarnya praktek patriarki juga tercermin (untuk bagian ini lebih baik teman-teman membacanya sendiri). Yang saya senangi disini adalah pandangan Ayu Utami terhadap sistem nilai. Bahwa pelekatan nilai terhadap sesuatu adalah hal yang sangat berbahaya karena dengan itu kita jadi mengukur segala sesuatu berdasarkan standarisasi nilai. Dan ini yang sekarang terjadi, kita cenderung melakukan sesuatu berdasarkan sistem untung rugi, membanding-bandingkan segala hal, menimbang-nimbang berdasarkan nilai tukar.

Penulis menjelaskan bahwa manusia melewati tiga proses spritual dalam hidupnya menurut ajaran Budha yakni Kamadatu (dunia nafsu, dorongan perut dan kelamin yang menjadi letak hubungan antara laki-laki dan perempuan), Rupadatu (dunia tubuh dan jiwa, dunia akalbudi, dan dorongan etis yang menjadi letak hubungan antar manusia) dan Arupadatu (dunia tanpa kemelekatan). Menghilangkan kemelekatan adalah tingkat tertinggi dalam pengendalian ego. Karenanya menjadi sesuatu yang sulit juga untuk dilakukan. Tapi sebagai pembaca saya menangkap disini Ayu Utami menyampaikan bahwa segala sesuatu yang inderawi itu sifatnya sementara jadi pilihan paling tepat adalah membebaskan diri dari rasa keterikatan.

Selama membaca buku ini saya sebenarnya sering jengkel juga dengan sikap tokoh A yang terkadang tidak konsisten dalam memegang nilai-nilai yang ia buat sendiri. Tapi saya menyadari bahwa hal itu manusiawi dialami setiap orang yang sedang berada pada perjalanan mencari kesadaran akan jati diri. Ayu Utami berhasil mendobrak nilai-nilai yang dianggap tabu dalam masyarakat dan berani mempertanyakan hal-hal yang tidak sejalan dengan prinsip hidupnya. Saya pikir sikap semacam itu perlu ada pada setiap diri. Dengan berani bertanya dan membiarkan akal mencapai batasnya sendiri merupakan bentuk kepercayaan akan karunia yang diberikan Tuhan. yang karena akal ini manusia menjadi setingkat lebih tinggi dari mahluk ciptaan lainnya.

Selamat membaca 📚
Semoga semua makhluk berbahagia 🌾
~rant

Komentar

Postingan Populer