Review Buku: Membunuh Commendatore by Haruki Murakami

Realisme Magis menjadi tema cerita di dalam buku ini, sebagai pembaca yang menyukai buku-buku misteri sekiranya cocok jika membaca buku ini juga. Satu hal yang menjadi daya tarik dari buku-buku Murakami adalah bagaimana perjalanan 'kesadaran' dari tokoh protagonisnya untuk memahami dirinya sendiri. Sama seperti buku Kafka On The Shore, di buku ini juga disajikan bagaimana tokoh utama memasuki dunia bawah sadar. Ada sensasi misterius, mengerikan, dan membikin merinding di beberapa bagian cerita namun tidak berlebihan.

Dalam buku ini dari awal sampai akhir penulis tidak menyebutkan nama dari si tokoh protagonis, namun karena diceritakan dari surut pandang orang pertama, pembaca cukup bisa menikmati alur ceritanya. Konflik yang disajikan menurutku tidak terlalu berat dan masalah-masalah internal setiap tokoh-tokohnya juga bisa dibilang biasa saja. Namun yang menjadi pemikat dalam buku ini adalah bagaimana setiap tokoh menjalani kehidupannya dengan jujur dan senantiasa berpegang pada prinsip yang mereka yakini. Karena ceritanya adalah realisme magis, ada beberapa keanehan dalam cerita yang menjadi kejutan bagi pembaca.

Konflik pertama yang muncul dalam buku ini adalah perceraian si tokoh protagonis yang berprofesi sebagai pelukis dengan istrinya setelah menjalani kehidupan rumah tangga selama enam tahun. Kondisi inilah yang menjadi titik mula perjalanan dari si tokoh utama. Setelah keluar dari rumahnya dan melakukan perjalanan selama beberapa bulan, ia akhirnya menetap di rumah ayah sahabatnya yang merupakan maestro seni lukis Jepang. Lokasi rumah tersebut berada di atas pegunungan dan cukup terpencil dari hiruk pikuk perkotaan. Di rumah ini kejadian aneh satu persatu mulai bermunculan.

Bagi pembaca setia Murakami, tentunya tidak heran jika di setiap karya-karyanya terdapat beberapa kesamaan. Murakami selalu menghadirkan musik-musik klasik, buku-buku klasik, dan detail lainnya seperti keberadaan sumur, binatang seperti burung gagak, kucing, lebah, burung hantu, dll juga menjadi ciri khas dari setiap buku-bukunya. Di beberapa tokoh dalam ceritanya pun ada yang digambarkan sebagai sosok misterius dan kesan tersebut di pertahankan sampai akhir. Di buku ini tokoh tersebut adalah Wataru Menshiki, sosok pria berusia 54 tahun yang eksentrik, kaya raya, dan memiliki kepribadian unik, yang merupakan tetangga dari tokoh protagonis.

Alur cerita dalam buku ini sedikit lebih lambat, namun meskipun begitu tidak ada pilihan selain mengikuti dengan sabar penuturan dari tokoh utama yang sedikit banyak memunculkan rasa penasaran. Secara garis besar buku ini menceritakan tentang perjalanan seorang pelukis untuk menemukan makna dari sebuah lukisan yang kemudian merubah pandangan hidupnya tentang kehidupan dan seni itu sendiri. Cukup menyenangkan melihat bagaimana perubahan pemikiran dari si tokoh protagonis, saya menyukai caranya menjalani hari-hari dengan sederhana dan apa adanya. 

Di awal cerita ketika dihadapkan dengan perceraian yang mendadak, alih-alih marah, si tokoh utama justru menganggap bahwa mungkin waktu bersama memang sudah cukup. Dan menyadari bahwa selama apapun ia dan istrinya bersama tetap ada sesuatu hal dari pribadi istirnya yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya. 
" Aku berhenti memandang hujan turun, melihat wajahnya, dan aku tersadar. Meskipun kami hidup bersama selama enam tahun di bawah satu atap, sebenarnya aku hampir tidak mengerti apa-apa tentang perempuan ini. Sama seperti orang tidak mengerti apa-apa tentang bulan meski ia menengadah memandanginya di langit luar setiap malam"

Dunia bawah sadar yang disuguhkan dalam buku ini juga memberikan sensasi magis bagi pembaca. Tokoh-tokoh pelengkap seperti sosok idea Commendatore, Muka Panjang, Donna Anna, dan Pria Subaru Forester Putih juga mengambil peran yang penting dalam cerita untuk memberikan kesan misteri. Saya menyukai scane di mana ketika si tokoh utama mengarungi dunia bawah sadar dengan berbekal ingatan dan kenangan tentang adik dan istrinya. Di sini saya berpikir bahwa segala hal yang tertinggal dari orang yang dikasihi meski hanya berbentuk kenangan, namun mampu menggugah kesadaran.

Kukira ending buku ini cukup melegakan, meski ada beberapa hal yang tidak diperjelas hingga akhir, tapi menurutku kesan itulah yang membuat karya-karya Haruki Murakami menyenangkan untuk dibaca. 

Happy reading 📚
~rant

Komentar

Postingan Populer