Cerpen 1

Ia mendengar suara gaduh dari belakang rumahnya saat tengah menikmati perjalanan detektif Kaga dalam mengungkap kasus pembunuhan seorang novelis dalam karya Keigo Higashino. Suara teriakan perempuan yang melengking berpadu dengan benda-benda yang berjatuhan membuyarkan konsentrasinya dan memaksanya beranjak dari ruangan sembilan meter persegi yang penuh dengan tumpukan buku-buku itu. Ia memutuskan untuk mencari tahu asal suara yang didengarnya.

Ia melangkah ke arah dapur dan melihat kondisi di sana sudah sangat berantakan, gelas dan piring berserakan di mana-mana, pintu kulkas terbuka, isinya kosong seakan penuh sesak dan meminta untuk dimuntahkan, sayuran dan buah-buahan tergeletak di lantai. Suara teriakan perempuan yang ia dengar tadi adalah ibunya. 

 “ada apa? Kok ribut sekali sih”

Melihat wajah ibunya pias, peluh-peluh keringat masih nampak di dahinya, seakan baru saja melihat hantu, padahal sekarang masih siang, panas matahari bahkan mampu mematangkan sebutir telur kalau saja ada orang yang ingin mencoba menceplok telur di tengah jalan. Beberapa hari terakhir suhu panas mencapai 37 derajat celsius dan diperkirakan akan bertahan beberapa hari kedepan.

“tadi ada kucing liar, ibu ingin mengusirnya tapi malah lompat kemana-mana, menyusahkan saja, lihat ada bekas cakarannya di sini”

Ia mengamati bekas cakaran di lutut ibunya. Perkara kucing saja rumah ini sudah seperti kemasukan maling. Begitu pikirnya. Tapi rumahnya memang sering kedatangan kucing, kadang kucing belang, kucing orange, kucing putih, dan kali ini kucing liar berbulu hitam. Kelihatannya tamu mereka kali ini sangat agresif sampai-sampai ibunya harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengusir. Ibunya tidak terlalu menyenangi kucing, sebab hampir semua tanaman bunga di pekarangan rumahnya berbau hajat kucing yang membuatnya selalu menggerutu jika membersihkan koleksi tanamannya.

Ia kembali masuk ke kamarnya setelah memastikan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ia melanjutkan bacaannya yang terjeda. Banyak tumpukan buku catatan di samping rak buku yang tampak sudah berumur dan kayunya mulai kesulitan menyangga bobot buku-buku. Gelas kopi, botol air berukuran sedang, dan beberapa penanda buku memenuhi meja. Kegemarannya membaca buku memaksa ia untuk selalu memenuhi asupan airnya. Dinding kamar itu terlihat bersih, tidak ada satupun figura foto. Di ruang bercat putih biru itu ia mengabiskan waktu bergulat dengan buku-buku, tak pernah sekalipun perasaan bosan muncul di benaknya. Pernah sekali ia menghabiskan tujuhratus sekian halaman hanya dalam kurung waktu delapan jam yang menjadikan jarak pandangnya kian memburuk.

Ia dan keluarganya tinggal di rumah yang terlihat cukup luas jika hanya ditinggali oleh tiga orang. Ayahnya adalah nahkoda yang andal dalam mengemudi kapal berkuruan besar, katanya nelayan Galesong memanglah pelaut ulung, hujan badai pun akan dilibas. Setahun sekali ayahnya akan berlayar mencari telur ikan terbang di tengah laut selama berbulan-bulan. Ikan-ikan terbang punya waktu tersendiri untuk bertelur, sekitar bulan mei sampai september. Diluar bulan tersebut mau berlayar kemanapun tidak akan mendapatkan telur ikan. Jika ayahnya melaut, ia hanya tinggal berdua bersama ibunya.

Daerah pesisir yang komoditi utamanya adalah ikan itu menjadi salah satu kecamatan terbesar di kabupaten. Mayoritas penduduknya memang berprofesi sebagai nelayan hanya sebagian kecil yang berprofesi sebagai pegawai dan sisanya adalah petani. Ia menghabiskan masa kecilnya di sana. Selain terkenal dengan sejarah pelaut ulung, tempat kelahirannya itu meyimpan banyak sekali peninggalan budaya berupa benda-benda bersejarah maupun tradisi yang senantiasa diwariskan turun temurun guna menjaga kelestariannya. Salah satu tradisi itu menemani masa kecilnya sampai ia tumbuh dewasa. Saat berada di bangku sekolah menengah pertama muncul dibenaknya bahwa keluarga mereka melakukan sesuatu yang sesat.

Sebagai keluarga nelayan ia selalu menyaksikan ritual pra melaut yang dilakukan oleh orang tuanya. Ada beberapa prosesi yang mengharuskan ia turut serta dalam ritual itu. Pada umurnya yang keduabelas saat proses berpikirnya sudah terbentuk untuk pertama kalinya ia berani mengajukan pertanyaan kepada ibunya yang kemudian semakin menambah rasa penasarannya akan ritual yang setiap tahun keluarga mereka lakukan.

“kenapa setiap bapak akan berangkat melaut, kita harus repot-repot melakukan ini semua? Padahalkan kalau mau melaut yah melaut saja”

Mendengar nada ketus dari pertanyaan putirnya, sang ibu yang sedang membuat adonan onde-onde menjawab tak kalah garangnya.

“tidak usah banyak tanya, ini untuk keselamatan bapak saat melaut!”

Sebelum fajar tiba, setelah ibadah shalat subuh terlaksana, ia diminta oleh ibunya menumbuk beras ketan, kunyit, dan daun-daunan di depan pintu masuk dan dilarang berbicara. Heran juga ia, tapi tak berani membantah. Tumbukan lesung itu harus keras, sampai-sampai tangannya kebas karena menumbuk beras ketan hampir setengah jam. Sementara di dapur ibunya membuat onde-onde, kue lapis, songkolo, dan juga pisang kepok yang juga menjadi makanan yang harus ada dalam ritual sebelum melaut.

Ia selalu mendapatkan jawaban yang serupa setiap kali mempertanyakan hal-hal yang ai anggap tidak wajar. Katanya untuk keselamatan. Ritual pra melaut ini atau sering disebut accaru-caru dilakukan oleh nahkoda kapal. Bahan-bahan yang telah disiapkan sebelumnya kemudian dibawah ke laut tempat kapal bersandar dan sebelum matahari terik prosesi itu sudah harus selesai. Orang-orang yang mengikuti ritual tersebut akan berlomba-lomba berebut buah pisang yang digunakan dalam proses accaru-caru. Biasanya anak kecil yang mahir berenang yang akan memperoleh jatah pisang yang lebih banyak.

Bertahun-tahun berlalu namun ia belum mendapatkan alasan mengapa ayahnya selalu melakukan ritual itu. Kerap merasa gundah karena kini ia menjadi mahasiswa pendidikan agama. Apalagi saat ia mendapatkan materi perkuliahan yang membahas tentang TBC (Tahayyul, Bid’ah, dan kurafat) katanya kegiatan ritual yang dilakukan dengan menggunakan dupa dan sesajen, serta percaya kepada hal-hal mistis termasuk dalam TBC dan orang-orang yang melakukannya bisa dikatakan syirik dimana itu merupakan dosa besar yang sulit mendapatkan pengampunan dari Tuhan.

Mendengar itu ia mengeluh dalam hati dan muncul kontradiksi dalam benaknya. Ia kemudian mengingat perkataan ayahnya bahwa mereka melakukan ritual tersebut bukannya meminta kelancaran atau rezeki kepada selain Tuhan, tapi sebagai bentuk penghargaan terhadap tradisi budaya dan leluhur. Meminta keselamatan dan rezeki tentunya hanya kepada Tuhan yang maha esa. Tapi diritual itu orang tuanya membakar dupa dan menyiapkan makanan yang mirip sesajen. Semakin ia merenungkan hal tersebut membuat beban pikirannya kian bertambah. Bagaimana pula ini, ia belajar agama tapi keluarganya melakukan hal-hal yang dilarang agama. Begitu pikirnya.

Keluarganya selalu melaksanakan perintah rukun Islam, tidak absen shalat, berpuasa, sedekah, tapi belum bisa berhaji. Mungkin saja orang-orang yang baru pertama kali menyaksikan ritual tersebut akan menganggap mereka sudah masuk ketahap syirik. Seperti anggapannya dulu. Tapi menurut ia budaya dan agama masing-masing berdiri sendiri, jika melihat tradisi budaya dalam kacamata agama pastilah yang didapatkan hanya ada dua kesimpulan salah atau benar dan itu tidak bisa ditawar lagi.

Sedari kecil ia senantiasa ditanamkan nilai-nilai kebaikan. Ayahnya yang meskipun berperawakan tinggi, besar, dan bersuara lantang tapi tutur katanya selalu baik, ia didik tidak dengan ucapan atau perintah tapi dari percontohan sifat dan sikap dari kedua orang tuanya. Ibunya sendiri adalah cerminan kesabaran dan kedermawanan. Gemar sekali ibunya berbagi kepada tetangga sampai-sampai suatu waktu ketika ia diminta oleh ibunya membawakan semangka berukuran sedang yang sudah dipotong menjadi empat bagian ke beberapa tetangganya ia iseng bertanya:

“ini tidak sekalian dipotong lebih kecil lagi supaya semua tetangga dapat, bu?” ucapnya dengan nada bercanda

“memberi itu bukan dilihat dari banyak tidaknya, tapi niat. Bisa saja para tetangga baru selesai makan tapi tidak punya buah untuk pencuci mulut”

Kalau saja orang tuanya memang melakukan sesuatu yang sesat, mengapa mereka masih melaksanakan ibadah? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali memenuhi kepalanya. Ia pun terkadang masih ragu-ragu menjawabnya tapi menurutnya bukanlah tugas manusia menghukumi sesuatu itu benar atau salah, apalagi niat dan alasan dibaliknya belum diketahui, yang menentukan apakah hal itu baik atau buruk adalah tugas Tuhan. Ia juga tidak ingin mengambil tugas Tuhan. Lebih baik ia membaca buku saja.

Pada usianya yang belia ia sering mengikuti kakeknya ketika memimpin doa saat ada tradisi yang diadakan di kampungnya. Melihat mulut kakeknya yang seperti mengucapkan sesuatu tapi tidak mengeluarkan suara membuat ia penasaran. Di perjalanan pulang ia bertanya pada kakeknya doa apa yang dibacanya. Ia menunggu, tapi kakeknya hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya. Setelah ia dewasa ia baru mengetahui bahwa doa-doa yang dibaca oleh kakeknya adalah surah pembuka dari Al-Qur’an. Dulu ia mengira kakeknya selalu membaca jampi-jampi.

~rant

#cerpen #budaya #akulturasi

Komentar

Postingan Populer