Belajar menjadi manusia melalui kisah Pak Suko dalam novel "Anak Gembala Yang Tertidur Panjang Di Akhir Zaman" karya A. Mustafa

Novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata ini berhasil memenangkan juara kedua dalam sayembara dewan kesenian Jakarta tahun 2018 lalu. Tema yang diangkat oleh penulis menurut saya sangat berani, berpindah-pindah dalam bahasan mengenai seks, teologi, pelacur, Tuhan, dan beriringan dengan hikayat babi serta epos mahabharata. Buku ini disajikan dengan alur maju mundur yang berganti-ganti di setiap babnya. Meski awalnya saya dibuat bingung dan kurang mengerti pada beberapa bagian, rasa penasaran membuat saya hanyut dalam cerita dan tanpa sadar telah sampai di lembar terakhir.

Buku dengan tema boy’s love yang pertama kali saya baca adalah buku ini. Tokoh utamanya bernama Suko Djatmoko Purwo Carito yang merupakan seorang waria dan berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) di tahun 1980-an. Pak Suko yang saat itu lebih akrab dipanggil Rara Wilis/Mbok Wilis merupakan ratu waria yang seringkali mangkal di jalan simpang lima Semarang. Melalui kisah hidup pak Suko, pembaca akan melihat bagaimana kondisi kelompok marginal di dalam masyarakat, apalagi pada tahun tersebut orientasi seksual yang berbeda/menyimpang masih sangat sulit ditoleransi.

Pada tulisan kali ini ada tiga poin penting yang ingin saya higlight karena menurut saya hal tersebut dapat memantik diskusi yang lebih dalam.

Waria dan stigma masyarakat

Sebagai kelompok marginal para waria seringkali mendapatkan perlakuan buruk dari berbagai pihak karena dianggap sebagai penyakit dan pembawa sial dalam masyarakat. Hal ini tentu saja bukan sesuatu yang mengejutkan apalagi kita hidup dengan nilai-nilai moralitas yang sangat kental sehingga segala bentuk penyimpangan tidak akan ditoleransi oleh masyarakat yang tumbuh dengan ajaran agama yang kental. Mbok Wilis pun mendapatkan perlakuan mulai dari kekerasan fisik yang dilakukan oleh satpol PP ketika tertangkap razia, sampai percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh sekelompok agamawan.

Perlakuan buruk juga diterima oleh Mbok Wilis dari keluarganya. Sebagai anak dari seorang kepala sekolah, pilihannya untuk menjadi waria membuat saudara-saudaranya marah besar dan mengusir mbok Wilis karena dianggap sebagai aib keluarga. Di beberapa bagian pembaca juga akan diperlihatkan bagaimana hubungan antara mbok Wilis dengan sesama PSK waria yang juga diusir dari keluarganya karena pilihannya tersebut. Kekerasan yang juga didapatkan oleh PSK waria datang dari para preman yang selalu meminta jatah setoran, bagi PSK waria yang tidak membayar akan mendapatkan kekerasan fisik dan di usir dari tempat mangkalnya.

Saya sendiri tidak bisa menerima penyimpangan yang jelas-jelas dilarang oleh agama ini. Namun tentu sebagai manusia kita bisa memilih cara apa yang harus dilakukan untuk menyadarkan mereka. Alih-alih menggunakan kekerasan, saya sangat tersentuh dengan cara orang tua mbok Wilis dalam menyikapi perilaku anaknya. Meski tahu mbok Wilis melakukan tindakan yang melawan syariat agama, ibu dan bapaknya masih menaruh perhatian dan senantiasa menasihati mbok Wilis dengan lemah lembut dan cinta kasih agar anaknya itu bisa kembali ke kodratnya sebagai laki-laki.

Penulis juga menceritakan sisi lain dari kehidupan waria yang berusaha agar tetap bisa memberikan manfaat kepada masyarakat sekalipun sering mendapatkan perlakuan buruk. Contohnya saja saat perayaan kemerdekaan 17 agustus. Para waria yang tergabung dalam kelompok bernama PAWATRI yang diketuai oleh Mbok Wilis membuat acara perlombaan dan pertunjukan yang dapat diikuti oleh semua warga di desa itu. Mereka melebur dengan sorak-sorai, dan kebahagiaan seraya mengesampingkan terlebih dahulu perbedaan di antara mereka. Membaca bagian ini saya ikut terharu juga.

Penyebab penyimpangan orientasi seksual

Lewat kisah mbok Wilis, Iwan, dan juga Haris yang merupakan pacar-pacar mbok Wilis saya menemukan beberapa alasan yang menjadi latar belakang mengapa beberapa orang memiliki orientasi seksual yang berbeda. Bagian yang menceritakan kisah masa kecil mbok Wilis memperlihatkan bahwa pola asuh orang tuanya yang memiliki pengaruh besar terhadap perilaku mbok Wilis. Mbok Wilis yang sejak kecil tinggal di rumah orang tua angkatnya sehari-hari melihat orang dewasa merokok, meminum minuman keras, berbicara kotor, dan kontak fisik. Pemandangan tersebutlah yang kemudian diserap dan ditiru oleh mbok Wilis kecil.

Mbok Wilis kecil yang gemar memakai riasan dan pakaian perempuan tidak pernah ditegur oleh pengasuhnya dan dibiarkan begitu saja. Saat masih duduk di sekolah dasar mbok Wilis juga sudah tahu perasaan suka ke sesama jenis, dan itu terus berlanjut sampai ia tumbuh dewasa. Orang tuanya yang melihat sikap mbok Wilis yang semakin kasar, dan tidak bisa diatur hanya menyalahkan diri mereka karena merasa gagal membesarkan mbok Wilis hingga menjadi seperti sekarang. Dari situ saya berpikir bahwa seandainya orang tua mbok Wilis tidak menitipkan anaknya ke tetangga dan berusaha memberikan kasih sayang yang layak maka bisa jadi mbok Wilis tidak akan memilih untuk menjadi waria pada saat itu.

Dari sini kita bisa melihat bahwa lingkunganlah yang memiliki pengaruh besar terhadap penyimpangan seksual. Dari kisah Iwan yang merupakan pacar mbok Wilis juga memperlihatkan kondisi serupa. Iwan tumbuh dalam keluarga yang akrab dengan kekerasan, ia seringkali melihat ayahnya menyiksa ibunya dengan pukulan dan tendangan. Hal ini memunclkan trauma psikis yang kemudian mempengaruhi orientasi seksualnya karena ingin mendapatkan figur laki-laki yang baik, lembut, dan mengayomi. Jadi bukan hanya persoalan gen ataupun hormon yang mengakibatkan perubahan orientasi seksual namun lingkungan tempat seseorang tumbuh dan berkembang juga punya andil yang sangat besar.

Dimensi Ketuhanan

Terlepas dari pembahasan seks yang begitu kompleks dibahas dalam novel ini, ada beberapa hal yang menurut saya bisa menjadi bahan refleksi bagi manusia. Bagian yang saya notice disini adalah bagaimana mbok Wilis tidak pernah meragukan kekuatan doa, meskipun bisa dibilang kontradiktif ketika mbok Wilis berdoa atas rezeki yang dia dapatkan dari pekerjaannya sebagai PSK. Namun saya melihat itu sebagai perwujudan rasa syukur dan kesadaraan dirinya sebagai seorang hamba.

Ketika mbok Wilis beberapa kali mendapatkan kekerasan dan percobaan pembunuhan ia bertaruh dengan Tuhan. Bahwa jika selamat ia akan berhenti menjadi PSK, namun tentu saja sulit untuk meninggalkan pekerjaan yang bisa mendapatkan uang dengan mudah. Mbok Wilis berkali-kali berjanji untuk berubah jika Tuhan memberinya kesempatan sekali lagi, namun tatap saja ia ingkar. Sebagai pembaca saya jengkel juga dengan sikap tidak tahu diri dari mbok Wilis ini, tapi bagian ini juga menampar telak saya. Apa bedanya saya dengan mbok Wilis? Mengulang kesalahan yang sama adalah sifat manusia dan barangkali butuh waktu seumur hidup untuk mengubah itu.

Mbok Wilis menyadari bahwa pilihannya menjadi waria adalah sesuatu yang menentang kodrat, sehingga meski berpenampilan seperti perempuan mbok Wilis tidak pernah melakukan operasi perubahan kelamin. Ia terbuka dengan kemungkinan datangnya hidayah, dalam doa-doanya mbok Wilis berharap menemukan guru yang bisa menuntunnya ke jalan yang benar. Doanya ini dijawab oleh Tuhan, namun mbok Wilis harus melewati banyak rintangan terlebih dahulu. Sampai pada akhirnya doa-doanya direngkuh. Cukup sentimentil juga sebenarnya ketika saya membaca bagian di mana mbok Wilis menanggalkan seluruh atribut PSKnya dan memulai kembali hidup barunya sebagai laki-laki.

Dari kisah mbok Wilis ini saya semakin percaya bahwa yang memutuskan siapa yang pantas dan tidak pantas mendapatkan hidayah adalah Tuhan. Yang punya hak mengadili seorang pendosa adalah Tuhan. Tapi seringkali kita melihat banyak manusia yang ingin mengambil alih tugas Tuhan. Padahal siapa yang tahu isi hati manusia? Bukankah yang kita lihat adalah apa yang nampak? Jangan sampai orang-orang seperti mbok Wilis yang kita anggap paling berdosa justru memiliki hati yang lebih tulus ketika berdoa kepada Tuhan, tidak menyimpan dendam, dan lebih jujur mengakui dosa-dosanya.

Bukankah lucu jika kita yang juga berlumuran dosa ini malah sibuk membicarakan dosa-dosa orang lain?

 

Selamat Merefleksi

~rant

Komentar

Postingan Populer