Merayakan Kompleksitas Pendidikan Indonesia



Sebagai seorang yang pernah menjadi siswa, mahasiswa, dan sekarang berproses sebagai pendidik, sungguh memilukan bagi saya melihat kondisi pendidikan Indonesia di era sekarang ini. Dalam rangka hari pendidikan nasional 2 mei lalu, saya banyak melihat ucapan selamat atas perayaan tersebut. Namun saya pun bertanya-tanya apa yang mau dirayakan dari pendidikan Indonesia?

Jika mengingat proses pendidikan yang saya tempuh mulai dari tingkat taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi, bagi saya tidak ada yang terlalu berbeda selain dari materi ajar yang saya dapatkan. Namun saya menganggap bahwa pendidikan yang saya dapatkan masih cukup layak, jauh berbeda jika harus membandingkan dengan beberapa sekolah yang saya temui ketika melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di Tombolo pao.

Permasalahan pemerataan pendidikan yang biasanya hanya saya diskusikan di ruang-ruang kelas, dari artikel-artikel yang saya baca, dan dari apa yang saya lihat di berita-berita, begitu melihat dan merasakan secara langsung saya kemudian menyadari bahwa pendidikan Indonesia masih sangat tertinggal.

Problematika pendidikan di Indonesia masih sangat kompleks, kesenjangan kualitas pendidikan di perkotaan dan pedesaan begitu nampak. Salah satu sekolah dasar yang saya tempati mengajar di masa KKN tidak memiliki buku-buku pelajaran yang layak, banyak diantaranya yang sudah sobek dan jumlahnya pun sangat terbatas. Satu kelas juga ditempati terlalu banyak siswa sehingga proses pembelajarannya kurang efektif.

Masalah sarana dan prasarana pendidikan masih menjadi masalah pokok yang belum terselesaikan sampai saat ini. Di daerah terpencil masih banyak sekali sekolah yang membutuhkan perbaikan. Salah satunya sekolah yang berada di kabupaten Maros tepatnya di dusun Bara yang beberapa hari lalu ramai diperbincangkan.

Sekolah ini tidak memiliki bangunan tetap sehingga para siswa harus belajar di bekas kandang ayam yang dijadikan sebagai ruang belajar. Karena tidak adanya kelas dan tenaga pengajarnya juga kurang dari lima orang mengharuskan semua siswa mulai dari kelas 1-6 belajar dalam satu kelas yang sama. Proses belajar mereka pun terganggu karena siswa kelas rendah bisa mendengar pelajaran siswa kelas tinggi begitupun sebaliknya. Karena keterbatasan ini para guru berkali-kali meminta pemerintah untuk memberi bantuan agar proses belajar mengajar bisa terus berjalan, namun sayangnya belum ada bantuan yang diterima.

Kondisi seperti ini juga banyak sekali bisa kita jumpai di wilayah Indonesia timur. Saya masih ingat jelas ketika ribuan pelajar di Papua turun ke jalan menyuarakan menolak program makan bergizi dan meminta agar program tersebut diganti dengan pendidikan gratis. Sangat masuk akal jika ribuan siswa ini lebih memilih pendidikan gratis dibandingkan program MBG ini, seperti yang kita semua sudah ketahui bahwa pendidikan di Papua masih sangat tertinggal.

Kompleksitas pendidikan di wilayah terpencil harusnya menjadi skala proritas bagi pemerintah. Sulitnya akses pendidikan, tidak meratanya kualitas pendidikan, dan sedikitnya tenaga pengajar yang ingin mengabdikan diri di wilayah pedalaman menjadikan banyak anak berusia sekolah yang tinggal di daerah pelosok tidak bisa menulis dan membaca. Di papua sendiri tercatat ada sekitar 693.000 anak kategori penduduk usia sekolah (PUS) yang tidak bersekolah.

Selain akses pendidikan yang layak, kurikulum pendidikan juga menjadi permasalahan utama. Bagaimana tidak, di Indonesia pergantian kurikulum sudah dilakukan sebanyak 11 kali sejak kemerdekaan sampai kurikulum yang berlaku sekarang. Namun yang kita kenal barangkali hanya beberapa. Saya sendiri mengalami empat pergantian kurikulum selama bersekolah, mulai dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK) 2004, kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), kurikulum 2013 (K-13), dan kurikulum merdeka 2022 yang masih berlaku sampai sekarang.

Saya sepakat bahwa perubahan kurikulum perlu dilakukan sebagai upaya memperbaiki kualitas pendidikan. Hanya saja jika pergantian kurikulum ini dilakukan secara mendadak tanpa proses uji coba untuk menilai kualitas perbaikannya justru akan menambah permasalahan baru. Selain itu sosialisasi pengenalan kurikulum dan mekanismenya juga harus dilakukan secara merata agar tenaga pengajar/guru bisa memahami sistem kerja kurikulum baru.

Polemik yang pernah hangat dibahas dan dikritik oleh banyak kalangan adalah pemberlakukan kurikulum merdeka ketika menteri pendidikan Nadiem Makarim menjabat. Kurikulum merdeka ini menggantikan kurikulum 2013 yang berlaku saat itu. Kurikulum Merdeka sendiri berfokus memberikan kebebasan kepada sekolah dan guru dalam merancang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. Yang diharapkan bisa mengembangkan kreativitas para guru dan menjadikan para siswa bisa belajar sesuai dengan minat dan bakatnya.

Namun alih-alih mendapatkan dukungan, sebagian prakitisi pendidikan dan akademisi justru memberikan kritik pedas dan menganggap bahwa kurikulum tersebut bermasalah. Pertama terkait kurangnya persiapan dan tidak adanya pelatihan guru sebelum kurikulum merdeka diberlakukan. Akibatnya banyak guru-guru khususnya yang tidak bisa menggunakan perangkat teknologi merasa terbebani dengan administrasi kurikulum merdeka yang terlalu banyak dan rumit.

Menurut saya pemerintah nampaknya juga tidak memperhatikan ketimpangan infrastruktur setiap sekolah sebelum kurikulum merdeka ini diberlakukan, akibatnya sekolah-sekolah yang berada di wilayah pelosok dan masih sangat tertinggal kesulitan menyediakan media pembelajaran dalam proses implementasi kurikulum merdeka. Bukan hanya itu, banyak praktisi pendidikan yang juga menilai bahwa kurang adanya keselarasan antara praktek dan teori dalam pemberlakuan kurikulum merdeka ini.

Selain beberapa permasalahan yang sudah saya jabarkan, belakangan ini saya sangat terusik dengan video-video yang banyak muncul di platfrom media sosial yang memperlihatkan guru-guru tengah asik berjoget trend tiktok bersama anak didiknya. Beberapa teman mengatakan bahwa itu cara agar guru bisa mengakrabkan diri dengan siswanya. Tapi kok alasan itu tidak masuk dalam logika saya.

Dulu sekali ketika saya duduk di sekolah dasar saya dan teman-teman bisa akrab dengan ibu guru tanpa perlu melakukan hal demikian. Proses belajar juga tetap berjalan menyenangkan, tidak perlu ada kamera handphone untuk merekam wajah kami agar bisa semangat belajar. Sebagai siswa sekolah dasar pada saat itu yang saya lakukan selepas belajar adalah bermain dengan kawan-kawan, bukan membuka hp dan merekam diri berjoget sesuai dengan apa yang sedang tren.

Era globalisasi memang memberikan dampak positif kepada pendidik untuk mengakses bahan ajar dimanapun dan kapanpun, namun jika tidak digunakan secara bijak kita bisa terbawa oleh arus teknologi yang membuat penggunanya mudah terdistraksi. Beberapa hari lalu saya melihat whatsapp story sepupu saya yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar tengah asik berjoget tiktok dengan wali kelasnya. Beberapa anak tetangga yang juga masih duduk di tingkat sekolah dasar begitu piawai menghafal semua trend berjoget-joget di tiktok.

Banyak juga saya lihat guru-guru yang merekam dirinya sendiri berjoget saat masih menggunakan seragam kerjanya. Seakan-akan tindakan tersebut adalah sesuatu hal yang bisa dibanggakan. Jika berprofesi sebagai pendidik apa yang kamu rasakan melihat hal tersebut? Saya pribadi sangat sedih dan miris melihatnya jika profesi yang begitu mulia ini harus dicederai dengan kelakuan beberapa guru tersebut.

Sebenarnya untuk apa kita merekam dan memposting proses belajar mengajar di kelas? Tanpa hal tersebut anak didik kita, rekan kerja kita, keluarga kita, dan teman dekat kita sudah tahu kalau kita seorang pendidik, seorang guru. Kita bukan influencer yang harus merekam semua aktivitas kita setiap hari. Merekam dan memposting wajah anak didik kita tanpa persetujuan mereka dan orang tuanya adalah sesuatu hal yang salah, itu adalah pelanggaran privasi anak.

Jika merekam kegiatan belajar mengajar sebagai bagian dari kegiatan sekolah maka hal itu boleh-boleh saja, namun yang jadi masalah adalah ketika guru merekam wajah muridnya untuk konten pribadi maka sudah jelas salah. Bayangkan saja jika orang tua mereka sendiri tidak pernah memposting wajah anak mereka karena menganggap itu adalah privasi anak, tapi justru di posting oleh gurunya, sebagai orang tua bagaimana perasaanmu?

Hal-hal seperti ini bukan sesuatu hal yang perlu kita normalisasikan. Pendidik, orang tua, dan masyarakat harusnya mengajarkan dan mencontohkan adab dan rasa malu kepada anak-anak. Biarkan anak-anak tumbuh dan berinteraksi dengan lingkungannya selaknya anak-anak. Alih-alih mengajak anak berjoget tiktok lebih baik mengajak anak membaca buku dan bermain permainan yang mampu mengasah daya imajinasi dan kreativitas anak.

Sebagai refleksi hari pendidikan nasional 2 mei lalu, mari kita kembalikan ruh pendidikan sebagaimana mestinya, mari kita wujudkan generasi penerus yang cemerlang, mari kita mencontohkan kebaikan kepada anak-anak kita, mari mengusahakan ruang aman bagi anak-anak kita di masa depan. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

~rant


Komentar

Postingan Populer