Sampah dan Budaya konsumerisme
Ide menulis tema ini tiba-tiba terlintas di benak saya ketika sedang lari pagi di lapangan kecamatan. Bekas sampah plastik pasar malam yang beberapa waktu lalu diadakan di sana memenuhi sepanjang trek jogging yang saya lewati. Mulai dari botol plastik, wadah makanan satu kali pakai, kantong plastik, sterofom, dan limbah pembakaran sampah plastik yang menggunung. Kondisi ini selalu berulang jika pasar malam sedang berlangsung dan tidak ada petugas kebersihan yang menertibkan.
Di lingkungan tempat tinggalku pengelolaan sampah bisa dibilang belum cukup baik. Tidak sulit menemukan gunungan sampah di pinggir-pinggir jalan meskipun sudah ada baliho raksasa yang menghimbau agar masyarakat tidak membuang sampah di situ. Sungai-sungai kecil di tengah kecamatan juga sama nasibnya, masyarakat yang tinggal disekitarnya menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah yang praktis, sering kali saya juga melihat pengendara motor yang lewat melemparkan kantong berisi sampah ke dalam sungai. Alhasil bau busuk begitu menyengat jika melewati jembatan.
Dari data statistik yang dikeluarkan oleh Dinas Lingkungan Hidup memperlihatkan bahwa Indonesia menggunakan 182, 7 miliar sampah plastik setiap tahunnya, dan ini menjadikan Indonesia sebagai negara kelima penyumbang sampah plastik terbesar ke laut pada tahun 2019 dengan 56. 333 ton pertahun. Angka yang sangat fantastis namun tidak layak untuk dibanggakan. Hal ini tentunya tidak mengherankan jika melihat budaya konsumtif masyarakat Indonesia yang sangat tinggi. 2023 lalu ketika saya berlayar dari Labuan Bajo ke Makassar, saya menyaksikan sendiri banyaknya limbah sampah plastik yang mengambang di tengah lautan.
Saya sangat miris dan sedih menyaksikan pemandangan demikian, apalagi Indonesia termasuk negara yang memiliki ribuan pulau. Sangat disayangkan bila keindahan alam itu tercemar oleh limbah sampah plastik. Selain itu, spesies flora dan fauna juga akan terancam jika penanggulangan sampah ini tidak dilakukan secara serius. Sering kali kita mendengar berita mengenai paus ataupun lumba-lumba yang mati karena menelan sampah plastik yang ada di lautan. Jika dibiarkan begitu saja sampah akan menggangu keseimbangan lingkungan hidup dan menjadikan hewan-hewan serta tumbuhan punah dengan cepat.
Di Makassar sendiri volume sampah cukup signifikan, Dinas Lingkungan Hidup kota Makassar menyebutkan bahwa di tahun 2022 volume sampah harian yang masuk ke TPA Tamangapa Antang mencapai 248, 8 ton perhari. Dan untuk volume sampah bulanan dari 2022-2023 mencapai 7. 374, 5 ton perbulan. Gunungan sampah yang tidak diolah ini memberikan dampak pencemaran udara bagi masyarakat khususnya yang tinggal di sekitar TPA. Mulai dari bau busuk, emisi gas metana yang berbahaya jika dihirup, resiko kekurangan air bersih karena adanya kontaminasi zat-zat berbahaya, dan juga akan membuat masyarakat rentan terkena penyakit karena lingkungan yang tidak bersih.
Tercatat 60-80% sampah berasal dari limbah rumah tangga yang banyak menggunakan produk satu kali pakai. Angka-angka ini seharusnya mampu membuat masyarakat untuk berbenah mulai dari sekarang. Dampak lingkungan dan kesehatan mengintai karena penggunaan produk satu kali pakai yang tidak terkontrol yang kemudian berakhir menjadi sampah yang merusak lingkungan. Kurangnya kesadaran ini disebabkan oleh budaya konsumerisme yang sudah mengakar di masyarakat. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi ini, saya akan coba menguraikannya dengan ringkas.
Pertama, masyarakat Indonesia menganggap bahwa produk satu kali pakai jauh lebih praktis karena bisa langsung dibuang jika selesai digunakan. Oleh karenanya banyak pengusaha makanan lebih memilih menggunakan wadah plastik satu kali pakai. Selain itu, harga produk kemasan yang berbahan plastik jauh lebih murah dan mudah didapatkan.
Kedua, pengaruh gaya hidup dari media menjadikan para pengguna media sosial lebih mudah mengakses layanan iklan dan promosi dari berbagai produk. Apalagi jika produk tersebut dipromosikan oleh publik figur peluang untuk membeli produk serupa akan lebih meningkat, inilah yang kemudian menjadi pendorong budaya konsumtif masyarakat.
Ketiga, banyaknya platform belanja online yang menyediakan diskon besar-besaran untuk berbagai jenis produk menjadikan masyarakat mudah tergiur untuk membeli produk-produk tersebut meskipun mereka sebenarnya tidak butuh. Kemudahan transaksi dan metode pembayaran juga menjadi alasan utama mengapa banyak orang gemar berbelanja online.
Keempat, tekanan sosial juga menjadi faktor utama dalam membentuk budaya konsumtif bagi masyarakat. Standar hidup yang mengukur kesuksesan hanya dari materi membuat sebagian besar masyarakat menghabiskan uangnya untuk membeli barang-barang yang minim kegunaan.
Kelima, akar dari permasalahan ini adalah kapitalisme. Kapitalisme menjadikan masyarakat sebagai objek utama dalam sistem ekonomi. Di mana ia menciptakan kebutuhan palsu dengan mempromosikan produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh masyarakat. Yang pada akhirnya membentuk budaya konsumerisme yang tidak terputus.
Lantas apa yang seharusnya kita lakukan untuk bisa lepas dari ketergantungan penggunaan produk satu kali pakai? Saya pribadi menganggap bahwa permasalahan sampah ini merupakan tanggung jawab kolektif bagi seluruh pihak mulai dari pemerintah, pemilik usaha, dan tentunya masyarakat. Masyarakat harus menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya mengurangi penggunaan produk berbahan plastik. Hal ini bisa diwujudkan jika pemerintah melakukan edukasi lingkungan secara massif ditingkat desa dan memperbaiki infrastruktur pengelolaan sampah di setiap daerah.
Pemilik usaha makanan juga sebaiknya meminimalisir wadah plastik sebagai pembungkus makanan. Bisa dengan menghimbau kepada pelanggan untuk membawa wadah sendiri jika membeli makanan untuk dibawa pulang. Membawa kantong belanjaan sendiri jika berbelanja, membawa botol air minum jika bepergian, serta memilah sampah sesuai dengan jenisnya sebelum dibuang merupakan langkah-langkah sederhana untuk mengurangi konsumsi sampah plastik dan menjaga lingkungan.
Nah selain produk satu kali pakai, yang penting untuk dikelola dengan baik juga pembelian produk kain seperti baju. Selain industri makanan dan kosmetik, industri fashion juga turut memberikan andil besar dalam pencemaran lingkungan. Mulai dari pencemaran air, udara, dan sumbangan limbah tekstil menjadi dampak utama dalam industri fast fashion. Karena itu kita sebagai pengguna produk harus bisa lebih pandai dalam menentukan hal apa saja yang menjadi kebutuhan dan yang bukan. Dengan mengusahakan gaya hidup yang bersih dan sehat, kita bisa mewariskan lingkungan hidup yang asri kepada generasi berikutnya.
Selamat membaca ✨
~rant🍀

.jpeg)

Komentar
Posting Komentar