Taman Tanpa Aturan
Beberapa hari lalu saya membaca sebuah buku untuk anak-anak, hanya 62 halaman dan langsung saya selesaikan satu kali duduk. Cerita-cerita di dalamnya sangat sederhana seperti khasnya buku cerita anak, tapi entah kenapa setelah menutup buku tersebut saya terdiam dan merenung cukup lama, sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa setelah menjadi dewasa ternyata banyak sekali pelajaran hidup dari masa kanak-kanak yang mulai luput dan terlupakan.
Dunia anak-anak adalah dunia yang penuh warna dan tawa, dunia kejujuran, dunia tanpa prasangka, dunia yang apa adanya. Setiap hari melakukan aktivitas yang berulang (bersekolah dan bermain) namun belum mengenal yang namanya bosan. Jika suka atau tidak suka terhadap sesuatu bisa dengan mudah disampaikan. Kata maaf dan terima kasih diucapkan tanpa perlu memikirkan citra diri. Dunia berjalan tanpa kepura-puraan.
Jika mengingat kembali kenangan masa kecil, muncul perasaan untuk kembali ke momen itu lagi. Usia dimana hidup berjalan tanpa perlu mengikuti standar masyarakat, tanpa perlu melektatkan nilai pada apa dan siapa. Rasa-rasanya hidup bisa terus berlanjut tanpa banyak kekhawatiran. Begitu menginjak usia dewasa, anak kecil dalam diri kita berubah menjadi manusia dewasa yang kaku dan menjemukan. Namun yang menjadi pertanyaan apakah itu sesuatu yang alami atau kita justru memaksa diri agar sesuai dengan standarisasi ‘orang dewasa’ yang dicitrakan masyarakat?
Cerita pembuka di buku “Taman Tanpa Aturan” menyentil orang dewasa yang kini mengukur kesuksesan dan kebahagiaan berdasarkan angka-angka. Saya kemudian mengingat-ingat kembali berbagai obrolan dengan teman-teman yang kini membahas besar kecilnya gaji, seberapa mahal harga pakaian dan make up yang dikenakan orang-orang, atau sudah berapa kali mengganti ponsel dengan handphone keluaran terbaru. Seberapa mahal dan seberapa besar kini dijadikan standarisasi untuk membangun citra diri sebagai orang sukses dan bahagia.
Kalau dipikirkan kembali kok sepertinya jadi beban sekali ya? Seperti harus belomba untuk menjadi yang terbaik agar mendapatkan legitimasi dari orang-orang. Dalam cerita ‘Di kota itu sudah tidak ada lagi yang gratis’ penulis menyampaikan kepada orang dewasa kalau ternyata kita bisa berbahagia tanpa mengeluarkan uang. Sesederhana mengelus kucing, membaca buku, beryanyi, mengobrol dengan teman, dan berbagai macam aktivitas lainnya yang bisa membuat kita bahagia tanpa perlu memikirkan sistem nilai.
Menjadi dewasa orang-orang juga perlahan lupa cara mendengarkan. Kita lebih sering mendominasi cerita, memberi saran tanpa diminta, dan sibuk mengomentari hidup orang lain. Seringkali orang dewasa terlalu terburu-buru mengambil keputusan, terburu-buru menilai sesuatu, sering merasa disalahpahami karena mereka sudah lupa bagaimana mendengarkan dengan saksama. Bukankah sebelum menjadi pembicara yang baik, kita harus memulainya dulu dengan menjadi pendengar yang baik? Terburu-buru membuat kita melewatkan banyak hal. Lewat cerita ‘Sepasang telinga yang mencoba kabur’ kita diajak untuk belajar mendengarkan orang lain dan diri sendiri.
Saya sendiri juga merasa telah berubah menjadi ‘orang dewasa’ yang sangat mempedulikan citra diri, terkadang lupa mendengarkan dan memahami, memendam permasalahan sampai menjadi beban pikiran, dan terkadang gengsi untuk sekadar meminta tolong, meminta maaf, dan berterima kasih kepada orang lain. Selalu ingin terlihat kuat dan mandiri. Tapi kemudian saya tersadar bahwa sifat dan sikap seperti itu merusak. Memperlembut hati dengan belajar mendengarkan ternyata membuat kita lebih jujur, lebih bisa memahami kondisi orang lain. Dengan membiarkan diri ditolong ternyata kita bisa membangun hubungan yang saling memanusiakan. Dengan memaafkan kita bisa mengetahui arti kesabaran.
Hidup ternyata sesederhana itu tapi kenapa kita sebagai orang dewasa gemar sekali membuatnya jadi rumit? Padahal kita hanya perlu menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Barangkali sebagai orang dewasa kita membutuhkan jeda untuk menarik napas sebentar, mengurai bising-bising di kepala, dan berdialog dengan diri sendiri bahwa anak kecil dalam diri kita tidak perlu dipaksa hilang karena dengan itu kita bisa memandang hidup dengan jauh lebih jujur. Kita bisa menjalani hidup dengan cara-cara yang lebih sederhana dan apa adanya.

.jpeg)

Komentar
Posting Komentar