Menyelami sejarah perempuan Asia Tenggara melalui buku "Kuasa Rahim" karya Barbara Watson Andaya

Buku bertema sejarah yang ditulis oleh Barbara Watson Andaya ini merupakan hasil penelitian selama lebih dari sepuluh tahun mengenai perempuan di Asia Tenggara serta peran dan kedudukannya dalam suatu kebudayaan, agama, sosial, ekonomi, dan politik pada periode modern awal yaitu tahun 1400-1800. Barbara Watson Andaya sendiri merupakan guru besar kajian Asia di Universitas Hawa'i di Manoa.

Buku yang ditulisnya ini terbit pertama kali pada tahun 2006 dengan judul Flaming Womb:Repositioning Women in the Early Modern Period yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Aditya Pratama dan Yayum Kumai, dan diterbitkan oleh penerbit Komunitas Bambu pada tahun 2021 dengan Judul KUASA RAHIM: Reposisi Perempuan Asia Tenggara Periode Modern Awal 1400-1800 dengan jumlah 388 halaman.

Saya bertemu buku ini ketika berkunjung ke salah satu toko buku di Makassar tahun 2022 lalu. Judulnya yang unik serta gambar sampulnya yang cukup berani menjadi daya tarik utama kenapa saya ingin membaca buku ini. Namun saat itu saya tidak meminangnya karena harganya yang cukup mahal, tapi untungnya ada seorang teman yang menghadiahkan buku ini. Kuasa Rahim merupakan buku sejarah non fiksi pertama yang saya baca, cukup lama juga bagi saya menyelesaikan buku ini, dan setelah dua tahun berlalu saya baru berani menulis ulasannya.

Dalam diskusi panel yang membahas buku ini, kak Aditya Pratama selaku penerjemah mengungkapkan bahwa proses penerjemahan buku ini cukup sulit dan membutuhkan waktu selama dua belas bulan lamanya untuk dirampungkan. Saya sendiri tidak heran karena kompleksitas buku ini, cara penulisannya yang sangat komparatif, dan penggunaan bahasa yang sangat luas menuntut pemahaman lebih mendalam. Meskipun melalui proses yang panjang, buku yang kemudian sampai kepada pembaca ini mampu diterjemahkan dengan begitu baik. Membaca buku ini bagi saya seperti bertualang di hutan belantara. Ada banyak sekali informasi segar yang disajikan oleh penulis.

Cakupan wilayah yang dibahas dalam buku ini sangat luas, sehingga pembaca jangan heran ketika menemukan satu paragraf yang menghimpun berbagai kebudayaan serta adat dan tradisi dari berbagai daerah. Contohnya salah satu paragraf yang membahas mengenai pandangan masyarakat tentang kesuburan perempuan, di awal paragraf penulis memberikan contoh kasus di wilayah Ambon, kemudian di tengah paragraf dikomparasikan dengan contoh kasus di wilayah Filipina, dan di akhir paragraf ditutup dengan contoh kasus serupa yang ada di wilayah Jawa.

Dari sini pembaca bisa melihat beragamnya konsepsi gender dalam suatu wilayah yang kemudian mempengaruhi kedudukan, peran, dan fungsi sosial perempuan dalam masyarakat. Buku ini merupakan karya penting nan cerdas, dan mudah dipahami serta mampu memberikan sumbangsih besar bagi sejarah Asia Tenggara khususnya pada era modern awal dalam mengembalikan perempuan ke dalam sejarah dunia yang selama ini terabaikan dalam historiografi.

Buku ini disajikan dalam tujuh bab, namun pada tulisan kali ini yang akan saya bahas hanya dua bab selebihnya teman-teman bisa langsung baca bukunya. Pertama mengenai posisi perempuan dalam perubahan agama/kepercayaan. Kedua mengenai peran perempuan dalam perubahan ekonomi. Alasan saya ingin membahas kedua tema ini karena dalam penafsiran ayat-ayat keagamaan, perempuan seringkali dimunculkan dalam citra negatif. Sedangkan dalam sektor ekonomi, peran perempuan kerap terpinggirkan karena adanya dominasi laki-laki.

Perempuan dan Perubahan Agama/Kepercayaan 

Konsepsi keperempuanan dalam sistem keagamaan di wilayah Asia Tenggara cukup beragam. Dalam agama-agama besar seperti Islam, Kristen, Buddha, dan Hindu perempuan menempati posisi dan peran yang berbeda. Sebelum adanya lokalisasi kepercayaan baru, perempuan menempati peran sentral dalam ajaran animisme/dinamisme sebagai dukun. Dalam kehidupan keagamaan khususnya di Filipina dukun perempuan dipercaya sebagai perantara manusia untuk berkomunikasi dengan dunia roh.

Masyarakat Filipina percaya bahwa adanya perubahan alam atau peristiwa tak terduga seperti kekeringan, gempa bumi, wabah penyakit, kematian, dianggap sebagai kemarahan makhluk gaib. Kondisi ini menuntut peran dukun perempuan untuk berkomunikasi dengan kekuatan-kekuatan gaib tersebut agar kemudian bisa memberikan keberuntungan, kesejahteraan, dan kesehatan bagi masyarakat. Masuknya kepercayaan baru yang kemudian diserap oleh masyarakat menggeser peranan perempuan dalam ranah ritual. Namun beberapa wilayah di Asia Tenggara tetap memandang bahwa tubuh perempuan merupakan saluran paling efektif untuk menyalurkan pesan dari alam gaib.

Proses lokalisasi ini juga mengalir dalam ajaran Buddhisme. Kepercayaan Buddhisme Mahayana tertindih oleh aliran Teravada yang kemudian banyak menyebar dan menjadi aliran dominan di Asia Tenggara. Namun sayangnya aliran ini cenderung menarasikan perempuan dengan penggambaran yang kurang baik. Seperti yang tertuang dalam kitab Traibhumikatha pada abad ke-14 yang menyebutkan bahwa terlahir sebagai perempuan adalah bentuk kesialan karena kurangnya darma (amal baik) di kehidupan sebelumnya.

Selain itu, dalam beberapa kitab Teravada lainnya juga terang-terangan menggambarkan perempuan sebagai makhluk yang dikuasai oleh nafsu keserakahan dan kebinatangan. Narasi perempuan dalam aliran ini dicitrakan dengan sangat buruk dan hanya dipandang sebagai makhluk haus birahi dan memiliki takdir lebih dekat dengan neraka. Sedangkan dalam ajaran Buddhisme lainnya peran perempuan dalam hal spiritual lebih bisa diterima. 

Seperti dalam Buddhisme Vietnam yang menganggap bahwa jenis kelamin bukanlah suatu halangan bagi seseorang untuk meraih status Buddha. Peran perempuan dalam aliran ini dianggap penting, salah satu contohnya adalah Dewi Quan Am yang dipandang sebagai perwujudan Dewi welas asih yang dipercaya bisa melindungi ibu hamil dan menjamin kelancaran proses persalinan. Statusnya sebagai bodhisattwa ini menempatkannya dalam Buddhisme arus utama yang kisahnya banyak terabadikan dalam berbagi macam arsip budaya.

Sedangkan dalam lokalisasi ajaran Islam terhadap kepercayaan lokal di Asia Tenggara lebih mudah diterima karena beberapa ajarannya justru memperkuat tradisi-tradisi asli. Contohnya seperti penegasan Islam terhadap pelarangan hubungan seksual pra nikah selaras dengan adat dan standar moralitas di beberapa wilayah di Asia Tenggara. Keperawanan seorang perempuan dianggap mencerminkan status sosialnya. Sehingga kesucian dipandang sebagai salah satu syarat utama dalam pernikahan.

Begitu juga pandangan Islam menyangkut najisnya darah menstruasi turut memberikan dampak terhadap beberapa tradisi lokal yaitu pelarangan perempuan untuk bercampur dengan masyarakat jika sedang mengalami menstruasi. Tradisi ini tetap bertahan di Ambon dalam bentuk pondok menstruasi. Pondok ini ditempati oleh perempuan yang sedang mengalami mens karena kepercayaan masyarakat Ambon yang menganggap bahwa darah menstruasi memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dan bisa mendatangkan bala.

Penyebaran agama Islam di Asia tenggara dibawa melalui jalur perdagangan khususnya pada wilayah Filipina, Kalimantan, dan pesisir Utara Jawa. Dalam ajaran Islam perempuan ditempatkan dalam posisi yang begitu mulia. Kisah istri Rasulullah SAW., yakni ibunda Khadijah dan Ibunda Aisyah, anak Rasulullah Fatimah, dan filsuf perempuan Rabiah Adawiyah yang digambarkan oleh penulis di buku ini adalah tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah kebudayaan Islam yang kisahnya menjadi bukti eksistensi dan peran penting perempuan dalam hal kepercayaan, pendidikan, pengobatan, serta perekonomian.

Selain itu, dominasi perempuan baya dalam acara-acara besar seperti pernikahan dan kelahiran masih akrab dijumpai di Asia Tenggara. Budaya lokal juga cenderung mengamini ajaran Islam khususnya anjuran yang mencakup aturan berpoligami, bersuci, dan berkhitan. Seperti yang ada di wilayah Ambon, khitan merupakan prasyarat yang harus dipenuhi jika seorang lelaki hendak kawin, dan pihak perempuan akan menolak berhubungan seks dengan laki-laki yang tidak berkhitan. Penerimaan yang relatif ramah ini tentu saja tidak lepas dari bagaimana cara suatu ajaran agama disampaikan dalam masyarakat.

Namun semakin tersebarnya Islam pada akhir abad ke-18 meminggirkan peran dukun perempuan yang sebelumnya eksis dalam masyarakat. Ajaran Islam menganggap bahwa praktik perdukunan sebagai wujud politeisme (syirik) sehingga pelarangan ritual yang melibatkan para dukun khususnya pemanggilan roh tidak bisa diterima oleh kalangan kiai. Kian kentalnya pengaruh reformasi Islam menjadi tantangan tersendiri bagi berbagai tradisi yang telah sejak lama dianggap mencirikan Islam Asia Tenggara.

Kemudian terkait penyebaran kristenisasi di Asia Tenggara bermula ketika penaklukan Portugal atas Malaka pada 1511. Proses penyebaran ajaran Kristen awalnya berfokus pada pemberantasan praktek perdukunan yang dianggap sebagai ritual pemujaan setan. Di Vietnam otoritas Katolik maupun Protestan cenderung memandang perempuan sebagai makhluk yang berpotensi berperan menjadi dukun yang dapat menyalurkan muslihat jahat setan lantaran menonjolnya peran mereka dalam ritual bumiputra. Karena sihir dianggap sebagai bidah, maka perempuan yang terlibat dalam hal itu harus disingkirkan dalam masyarakat.

Berbeda dengan konsepsi perempuan dalam ajaran kristen di Vietnam, di Filipina sosok perempuan yakni Maria dijadikan sebagai teladan oleh pemeluk Katolik khususnya perempuan. Mereka menganggap bahwa Maria merupakan Dewi penuh kasih sayang yang mampu memahami urusan perempuan. Mereka juga percaya bahwa kehidupan orang yang beriman selalu diawasi oleh "Bunda yang Baik" dan bisa mengusir bahaya-bahaya yang akan datang. Meskipun pada abad ke-18 hierarki gereja didominasi oleh laki-laki dan melarang peribadatan yang dilakukan perempuan, beberapa komunitas yang didirikan oleh perempuan tetap bisa dijumpai meskipun jumlahnya terbatas.

Dari narasi-narasi tersebut kita bisa melihat bahwa perempuan tetap memiliki otoritasnya sendiri dalam berbagai bidang dan memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki, sehingga narasi global tentang inferioritas perempuan tentu tidak berlaku untuk konteks Asia Tenggara. Meskipun kita melihat adanya dualitas pandangan agama terhadap peran perempuan yang disajikan oleh penulis. Sampai berakhirnya era modern awal, status perempuan baya yang dianggap sebagai dukun masih tetap eksis dalam sistem kepercayaan masyarakat Asia Tenggara, sehingga meskipun banyak pelarangan dan stigma negatif, perempuan tetap bisa mempertahankan eksistensinya dari lokalisasi kepercayaan baru.

Perempuan dan Perubahan Ekonomi 

Salah satu bagian yang membuat saya takjub adalah keterlibatan perempuan dalam upacara siklus pertanian yang terdapat di beberapa wilayah Asia Tenggara. Dalam masyarakat agraris siklus pertanian yang mencakup pertunasan, pematangan, dan pemanenan diumpamakan dengan proses pembuahan, kehamilan, dan kelahiran yang dialami oleh perempuan. Simbolisme yang menghubungkan tanaman dengan kelahiran manusia ini banyak dicerminkan oleh tanaman padi. 

Pengumpamaan Dewi Padi sebagai perempuan muda yang cantik sering dijumpai di tengah masyarakat Asia Tenggara. Salah satu contoh yang diangkat oleh penulis adalah ritual yang berkembang di kalangan masyarakat Toraja dimana benih padi yang disiapkan untuk masa panen berikutnya harus diinjak oleh perempuan. Benih-benih padi tersebut digelar di atas kayu dan kemudian perempuan muda harus bejalan di atasnya dengan langkah yang pelan. Hal ini dipercaya mampu mendatangkan hasil panen yang baik dan melimpah.

Sedangkan di wilayah Timor ritual upacara untuk memastikan bibit jagung dapat bertunas dan matang tanpa dihantam malapetaka harus dilakukan oleh perempuan dewasa dan anak perempuan. Masyarakat Timor percaya bahwa jika ritual ini diabaikan, tanamannya bisa benar-benar gagal panen dan akibatnya paceklik melanda sampai padi kering bisa dipanen. Dari beberapa sumber tersebut kita bisa melihat bahwa produksi bahan makanan bertumpu pada peran perempuan dalam upacara pertanian.

Selain perannya dalam ritual pertanian, perempuan juga memiliki kontribusi besar dalam produksi tekstil melalui proses penenunan. Seperti yang banyak dijumpai di Filipina, Minahasa, maupun Jawa. Perempuan berperan untuk menenun benang, mewarnai kain, sampai proses penjualan. Karena pekerjaan tersebut, perempuan lebih banyak menghabiskan waktu dan tenaganya dalam memproduksi pakaian. Dituliskan bahwa untuk memintal 450 gram benang dibutuhkan waktu satu bulan lamanya dengan menggunakan alat tenun yang disebut gedogan yang cara kerjanya amat berat.

Meskipun kedudukan perempuan dalam hal produksi bahan makanan dan juga pakaian lebih unggul dibanding laki-laki. Dari apa yang diungkapkan oleh penulis di buku ini, kita bisa melihat bahwa hal itu juga berbanding lurus dengan banyaknya tenaga dan waktu yang harus dikeluarkan oleh perempuan. Ditambah lagi mereka harus mengerjakan pekerjaan domestik lainnya seperti mengurus anak dan membantu suami. Kondisi ini menjadikan perempuan menanggung beban ganda.

Selain berperan dalam ritual pertanian dan penenunan, kepercayaan masyarakat lokal juga menganggap perempuan sebagai harta yang sangat berharga dalam keluarga. Di Sumatera Barat seorang petani yang memiliki banyak anak perempuan akan dipandang sebagai orang kaya. Di Vietnam pun kelahiran anak perempuan disambut dengan suka cita. Hal ini dikarenakan karena pemberian mahar kepada perempuan ketika kelak dinikahi oleh seorang laki-laki akan memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.

Namun kondisi ini perlahan berubah saat terjadinya urbanisasi dan mekarnya perdagangan internasional. Di satu sisi, di perkotaan dan pelabuhan perempuan dapat menekuni agama, meraih banyak kesempatan ekonomi, dan dapat pula membangun hubungan perkawinan yang menguntungkan. Namun di lain sisi, di pusat-pusat kota juga marak dijumpai kemiskinan perempuan, kekerasan domestik, dan anak terlantar. Alasan utamanya adalah perubahan demografi yang disebabkan oleh membengkaknya jumlah budak rumah tangga yang sebagian besarnya adalah perempuan.

Karena kondisi tersebut di abad ke-17 perdagangan seks mulai akrab di kawasan Asia Tenggara khususnya pada wilayah-wilayah yang padat penduduk. Banyaknya pedagang asing dari Eropa menjadikan bisnis prostitusi ini meningkat pesat. Pedagang asing biasanya tertarik untuk terlibat dalam hubungan seksual yang ringkas, murah, dan bebas dari kerumitan. Menjamurnya "Istri Sementara" turut membangun pandangan Eropa pada umumnya yang melabelkan perempuan Asia Tenggara sebagai jalang yang siap menjual diri mereka demi meraih segala macam keuntungan, meskipun hanya sedikit.

Pertumbuhan komodifikasi seks ini tentunya hadir karena banyaknya faktor. Tekanan ekonomi menjadi penyebab utama seorang perempuan mengabaikan kepentingan pribadi demi mendapatkan kebutuhan dasar bagi dirinya dan keluarganya. Jika beban finansial keluarga sangat berat, anak perempuan dan istri dapat digadaikan sebagai budak utang. Dalam kasus lain, para perempuan terpaksa melacurkan diri hanya untuk bertahan hidup. Bagi perempuan yang tidak memiliki keterampilan lebih memilih untuk memanfaatkan kelihaian seksualnya sebagai modal untuk mendapatkan penghasilan.

Urbanisasi juga memperlihatkan gambaran suram lainnya diantaranya peningkatan kasus menular seksual, masalah kesehatan reproduksi, dan juga kemandulan dimana yang paling dirugikan adalah perempuan. Selain itu, angka kelahiran anak juga bertambah yang menyebabkan kasus penelantaran anak meningkat terutama pada abad ke-18. Disebutkan bahwa sebuah panti asuhan di Semarang dihuni oleh lebih dari empat puluh anak yang semuanya adalah peranakan dari ayah Eropa dan ibu bumiputra.

Sebelum masuknya perdagangan internasional, kita bisa melihat kehidupan perempuan relatif sejahtera dan menyenangkan. Keunggulan perempuan dalam ekonomi rumah tangga juga menjadi corak umum masyarakat Asia Tenggara. Fakta-fakta ini setidaknya mampu membuktikan bahwa perempuan memiliki kuasa atas sumber daya dan produksi. Sebagai pembaca sejarah yang masih awam, saya terkesima dengan cara penulis menyajikan sumber-sumber sejarah yang begitu beragam ini dengan sangat apik.

Melalui buku ini kita bisa melihat kompleksitas peran perempuan khususnya di kawasan Asia Tenggara pada era modern awal. Cakupan penelitian penulis sangat luas dan apa yang saya jelaskan di tulisan ini hanya sebagian kecil. Karenanya saya sangat merekomendasikan buku ini kepada pembaca yang suka dengan tema sejarah khususnya sejarah perempuan. Teman-teman akan melihat banyaknya keunikan budaya, tradisi, ritual upacara, yang melibatkan perempuan. Sebagai penutup tulisan ini saya ingin mengutip pesan yang disampaikan oleh penulis bahwa "pemahaman tentang masa lalu perempuan, walaupun tidak utuh, harus tetap ada".

Selamat membaca😍

~rant🍀

Komentar

Postingan Populer