Ulasan buku: "Pendidikan Kaum Tertindas" karya Paulo Freire
Buku Pendidikan Kaum Tertindas bisa dibilang adalah buku wajib yang harus dibaca oleh mahasiswa khususnya yang mengambil program studi pendidikan. Buku klasik ini ditulis tahun 1968 dan diterbitkan dalam bahasa Inggris tahun 1970. Dari awal publikasinya hingga saat ini, Pendidikan Kaum Tertindas masih menjadi buku yang memberikan pengaruh luar biasa dalam dunia pendidikan.
Paulo Freire
menggunakan pendekatan pedagogik kritis dalam menyingkap akar permasalahan
dalam dunia pendidikan. Dalam buku ini ia mengkritik sistem pendidikan
konvensional yang bergaya bank, dimana proses pembelajaran hanya sekadar
aktivitas menabung, para murid hanya mendengarkan dan harus mengikuti perkataan
gurunya. Posisi murid sebagai penerima pasif menjadikannya tidak mampu berpikir
kritis dan terlibat aktif dalam pembelajaran.
Gaya pendidikan seperti
ini umum digunakan dalam instansi pendidikan, semasa bersekolah pun dari
Sekolah dasar, sampai sekolah menengah atas proses belajar mengajar yang saya
lalui menggunakan metode ini. Di mana guru adalah satu-satunya sumber
pengetahuan dan menjadi otoritas mutlak yang harus dipatuhi, karenanya para
murid menjadi kesulitan mengekspresikan pikirannya, menganalisis masalah, dan
mencari solusi sendiri. Menurut Freire kondisi ini merupakan proses
dehumanisasi yang tidak disadari yang dilakukan oleh guru kepada peserta
didiknya.
Dari permasalahan
tersebut Puolo Freire menggagas konsep “pendidikan dialogis” yang menekankan
pada proses dialog/diskusi, pertukaran ide dan pemikiran antara guru dan murid
dalam proses pembelajaran. Dalam konsep pendidikan dialogis kolaborasi antara
guru dan murid menjadi hal penting dalam menciptakan pengetahuan dan melatih
peserta didik untuk berpikir kritis. Murid diberikan kesempatan untuk
menganalisis masalah dan mendiskusikannya kepada guru secara aktif dan terbuka,
hal ini tentunya akan menciptakan lingkungan pendidikan yang dinamis. Dalam konsep
pendidikan dialogis bukan hanya peserta didik yang belajar, namun guru juga belajar
untuk memahami karakteristik peserta didiknya.
Selain itu, buku ini
juga menyoroti konteks sosial dalam pendidikan dimana adanya sistem kelas
masyarakat yang meciptakan ketidaksetaraan pendidikan antara kelas borjuis dan
proletar. Puolo Freire menyebutnya sebagai kelompok penindas dan kelompok
tertindas. Hierarki tersebut yang kemudian melahirkan ketidakadilan dalam
sistem pendidikan. Di buku ini Freire menyampaikan kritik tajam dan juga solusi
terhadap kelompok tertindas. Ia menekankan bahwa kesadaran dari kaum tertindas
adalah kunci untuk mewujudkan kesetaraan.
“Kesadaran kritis adalah langkah pertama
menuju pembebasan, karena individu yang menyadari ketidakadilan sosial lebih
cenderung untuk mengambil tindakan”
Melalui buku ini saya memahami bahwa lingkungan sosial anak
begitu berperan penting dalam menciptakan semangat pendidikan. Selain itu,
sekolah perlu mencari relevansi pendidikan dengan kehidupan sehari-hari peserta
didik agar mereka bisa terlibat dalam aktivitas sehari-hari dan mampu menemukan
solusi atas apa yang mereka temui dalam lingkungannya. Adanya dialog dalam
proses belajar mengajar juga akan menumbuhkan kreativitas peserta didik, dan
memperluas sudut pandangnya mengenai pelajaran ataupun hal-hal di laur
pelajaran.
Pendidikan yang horizontal akan menumbuhkan iklim belajar
yang bisa membuat guru dan peserta didik sama-sama bertumbuh. Guru akan mudah
mengidentifikasi permasalahan belajar yang dihadapi murid karena adanya dialog
terbuka, dan bersama-sama mencari solusi dengan berdiskusi. Konsep ideal yang
ditawarkan oleh Puolo Freire ini menurut saya sangat bagus dari segi penjabaran
teori namun sulit untuk dipraktekkan khususnya di Indonesia. Pertama, sistem
pendidikan Indonesia yang kualitasnya belum merata menjadikan setiap pendidik di
berbagai daerah menerapkan cara mengajar yang berbeda-beda.
Kedua, tidak adanya konsistensi dalam kurikulum di Indonesia.
Setiap kurikulum berganti, cara penerapannya juga berbeda yang kemudian
mempengaruhi metode pengajaran yang akan digunakan. Bukan hanya metode, muatan
materi pelajaran juga berbeda setiap kurikulum berganti. Ketiga, kurangnya
pelatihan untuk tenaga pendidik yang bersifat inkulsif, serta sarana dan
prasarana pendidikan yang masih tidak merata. Selain itu, pendidikan yang hanya
dibebankan kepada guru tanpa adanya dukungan dan bimbingan dari orang tua dan
masyarakat juga menjadi masalah dalam pendidikan.
Oleh karena itu, selain pentingnya kesadaran kritis, perlu
ada sinergitas dalam menumpaskan segala bentuk ketimpangan dalam kelas sosial
yang akan mempengaruhi kualitas pendidikan. Sebagaimana yang tertuang dalam
ideologi bangsa dalam sila ke-5 “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”
adalah hak yang harus dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat. Membaca buku
ini akan membuka pandangan pembaca mengenai kondisi sosial dan siapa sebenarnya
yang berperan untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan. Lagi-lagi saya
menekankan pentingnya membaca karya fenomenal ini khususnya untuk mahasiswa,
pendidik, dan para aktivis. Tidak perlu mengkhawatirkan isinya, karena
terjemahannya begitu mulus dan mudah dipahami oleh pembaca. Ayo sama-sama
merefleksi!!
~rant❤

.jpeg)

Komentar
Posting Komentar