Ulasan buku: Filosofi Pendidikan Anak

Filosofi Pendidikan Anak ini merupakan kumpulan pembahasan Ngaji Filsafat yang sebelumnya sudah tayang di kanal YouTube MJS Channel yang kemudian dibukukan. Jujur saja saat membaca buku ini seperti mendengarkan sendiri ustad Fahruddin Faiz menjelaskan dengan suara yang begitu adem dan lembut.

Seperti judulnya, buku ini membahas konsep pendidikan dari empat tokoh penting yang memiliki andil besar dalam dunia pendidikan. Mulai dari Maria Montessori, Rabindranath Tagore, Abdullah Nashih Ulwan, dan Ki Hadjar Dewantara. Premis awal dalam buku ini adalah bahwa mendidik anak sama dengan melanggengkan manusia dan kemanusiaan.

Secara garis besar, keempat tokoh ini sama-sama mengedepankan pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan. Serta meyakini bahwa setiap anak memiliki keunikannya masing-masing yang tidak bisa diseragamkan.

Pada ulasan kali ini saya akan menguraikan dengan ringkas mengenai filosofi pendidikan dari keempat tokoh tersebut.

• Filosofi Pendidikan menurut Maria Montessori 

Maria Montessori merupakan seorang pemikir, dokter, filsuf, ilmuwan, dan pendidik. konsep pendidikan Montessori diawali dengan asumsi bahwa pendidikan harus dimulai sejak lahir, sebab seorang anak adalah kendaraan untuk membawa perubahan bagi umat manusia.

Montessori membagi empat fase pendidikan sesuai dengan tingkatan usia anak dengan pola dan model pendidikan yang berbeda. Fase pertama, fase pengembangan diri individu (usia 0-6 tahun) dimana anak belajar sendiri untuk merangkak, berjalan, membaca, berbicara, dan mengembangkan kepribadiannya.

Fase kedua, fase perkembangan sosial dimana anak belajar mengenai keterampilan sosial seperti sopan santun, dan interaksi dengan orang lain. Fase ketiga, fase awal kedewasaan. Di sini anak sudah menjadi individu dan mulai mengeksplorasi pilihan, memilih jalan, dan memulai karier. Dan di fase keempat, adalah fase dewasa dimana setiap anak mulai mempertanyakan dan mencari jati dirinya.

Titik fokus dalam konsep pendidikan Maria Montessori adalah fase awal pertumbuhan seorang anak. Masa-masa inilah yang paling krusial dalam pembentukan kepribadian. Metode Montessori secara bentuk menyediakan suasana pembelajaran yang dapat mendorong seorang anak mengeksplorasi, berinteraksi, dan belajar.

Metode ini kemudian banyak diadopsi pada pendidikan jenjang Paud dan TK. Peran guru dalam metode Montessori adalah sebagai pengarah dan penyedia fasilitas, selebihnya adalah anak sendirilah yang belajar dan mengeksplorasi lingkungan belajar yang telah disediakan. Hal ini bertujuan untuk membentuk kemandirian agar anak terbiasa melakukannya sendiri baik itu makan, minum, memakai baju, dll.

Filosofi Pendidikan menurut Rabindranath Tagore

Tagore merupakan seniman, sastrawan, filsuf, dan seorang guru yang akrab disapa gurudev. Rabindranath Tagore berada dalam satu angkatan dengan Mahatma Gandhi yang merupakan tokoh pejuang. Pada tahun 1913 Tagore mendapatkan Nobel dalam bidang sastra. 

Sebagai keturunan brahmana, Tagore menyakini bahwa setiap orang harus berusaha mencapai kesempurnaan spiritual. Pandangan ini yang kemudian menjadi tolok ukur dalam konsep pendidikan yang digagas oleh beliau.

Pendekatan pendidikan Tagore didasarkan pada pendekatan alam dan cinta. Alam sebagai manifestasi kekuasaan Tuhan adalah media pendidikan yang paling cocok untuk anak-anak agar mereka tumbuh dengan merasakan dan meyakini keindahan serta kehadiran Tuhan.

Tujuan pendidikan menurut Tagore adalah pertumbuhan alamiah, penguasaan intelektual, serta perkembangan moral, sosial, dan spiritual. Ketika hal ini sudah terlaksana, maka puncak dari tujuan pendidikan yakni cinta dan kemanusiaan akan termanifestasi dalam kepribadian dan kehidupan. 

Sekolah ideal bagi Tagore adalah sekolah yang langsung bersentuhan dengan alam. Model pendidikan yang dijalankan serupa dengan sekolah asrama yang letaknya jauh dari perkotaan. Hal ini bertujuan agar anak dapat menemukan kedamaian, ketenangan, dan kejernihan.

Melalui sekolah asrama, guru dan anak dapat berinteraksi secara langsung dalam rentang waktu yang cukup lama sehingga penanaman karakter jauh lebih mudah dilakukan, karena anak bisa meneladani langsung dari aktivitas yang dilakukan bersama.

• Filosofi Pendidikan menurut Abdullah Nashih Ulwan

Abdullah Nashih Ulwan atau akrab disapa Syekh Ulwan merupakan ulama masyhur, fakih, dan ahli pendidikan dalam bidang pendidikan Islam. Kitabnya yang paling terkenal dalam bidang pendidikan anak berjudul Tarbiyatul Aulad fil Islam yang juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Konsep pendidikan menurut syekh Ulwan khususnya dalam paradigma pendidikan Islam berangkat dari asumsi bahwa mendidik anak harus secara utuh/holistik, tidak sekadar melatih pikiran, mengembangkan fisik, tapi juga Ruhani. Pengembangan kepribadian seorang anak harus berimbang antara fikriyah, ruhiyah, dan jasadiyah.

Ketika pendidikan hanya parsial, hanya berfokus pada akal pikiran, atau hanya fokus pada Ruhani, maka pendidikan yang dijalankan tidak berimbang. Selain itu menurut syekh Ulwan pendidikan sepatutnya menuntun, membimbing, dan menasehati agar potensi, minat, dan bakat anak bisa keluar. 

Tujuan pendidikan dari syekh Ulwan adalah membentuk anak yang benar imannya, bermoral, dan berakhlak mulia, terampil, sehat jasmani, tajam intelektual, bersih jiwanya, dan cerdas sosial. Guna mencapai tujuan tersebut Syekh Ulwan menggunakan beberapa jenis kurikulum diantaranya:

Pendidikan Iman, Pendidikan Budi Pekerti, Pendidikan dengan cara pembiasaan (Tarbiyah bi al-Adah), Pendidikan dengan nasihat (Tarbiyah bi al-Nasihah), Pendidikan dengan Memberikan Perhatian (Tarbiyah bi al-Mulahadhah), Pendidikan dengan Memberikan Hukuman (Tarbiyah bi al-Uqubah), Pendidikan Fisik, Pendidikan Intelektual, Pendidikan Mental, Pendidikan Kejiwaan, dan pendidikan Seks. 

Konsep pendidikan yang digagas oleh Syekh Ulwan ini menurut saya adalah paket komplit. Dalam kurikulum pendidikan seks, Syekh Ulwan bahkan menjelaskan secara runtut mengenai jenis pendidikan seks yang harus diajarkan kepada anak sesuai dengan tingkatan usianya, mulai dari kanak-kanak sampai dewasa.

Karena pemikiran beliau berfokus pada pendidikan Islam sehingga yang lebih dominan adalah penanaman sisi religius dan agama.

• Filosofi Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara 

Tokoh terakhir yang pemikirannya dibahas dalam buku ini adalah bapak pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara. Beliau merupakan Menteri Pendidikan Indonesia pertama pada 1956 dan menjadi pahlawan nasional. Tanggal kelahirannya 2 mei dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan sumbangsih beliau dalam bidang pendidikan.

Ki Hadjar Dewantara berfokus pada pendidikan anak, pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh pemikiran Syekh Ulwan yang kemudian melahirkan konsep pendidikan yang terkandung dalam tiga asas yaitu: Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya Mangun karsa, dan Tut wuri andayani

Ki Hadjar Dewantara sangat paham tentang bangsa Indonesia dan jenis pendidikan apa yang layak dan cocok untuk diberikan. Bagi beliau pendidikan berarti melatih anak untuk merdeka sesuai kodratnya, mampu mendayagunakan akal budi, melahirkan budaya yang sesuai dengan identitas kebangsaan, dan mampu bergaul dengan manusia dan bangsa lain.

Ki Hadjar mengedepankan kemerdekaan belajar bagi setiap anak. Dimana anak bisa belajar sesuai minat dan bakatnya, dan mengeksplorasi apa yang menjadi keinginannya. Tugas guru dalam konsep merdeka belajar adalah memperhatikan apa yang dapat dikembangkan dari anak didiknya, mana yang harus didorong, dan apa yang harus dikuatkan. Murid diarahkan menjadi dirinya sendiri, berkembang sesuai bakat dan minatnya sendiri.

Gagasan mengenai filosofi pendidikan dari keempat tokoh tersebut sangat menambah wawasan dan tentunya dapat menjadi referensi bagi setiap pendidik untuk mengoptimalkan tugas dan fungsinya sebagai pengajar dan pendidik. Lewat buku ini saya memahami bahwa pendidikan merupakan tempat dimana setiap anak dapat bertumbuh menjadi manusia yang manusia. Melahirkan pribadi yang indah, diperindah, dengan pendidikan.

Selamat membaca📚😊

~rant🍀

Komentar

Postingan Populer