Aroma yang Mengguncang Dunia (Sejarah Rempah)

Apa yang terlintas di benak teman-teman ketika mendengar kata "Rempah"?
Mayoritas dari kita barangkali akan menjawab bumbu dapur. Jawaban yang umum dan memang seperti itulah fungsi rempah-rempah di era sekarang. Sebagai penyedap panganan, rempah-rempah memberi rasa dan aroma yang khas. Di negara-negara asia khususnya Indonesia rempah-rempah sudah menjadi bahan wajib dalam resep makanan. Mulai dari lada, pala, cengkih, kayu manis, dan rempah lainnya.

Namun selain sebagai bumbu dapur, rempah-rempah ternyata menyimpan sejarah panjang, memesona, sekaligus kelam. Di buku Sejarah Rempah yang ditulis oleh Jack Turner ini mengungkap sepak terjang rempah-rempah berabad-abad lalu. Rempah-rempah bukan hanya sekadar penyedap rasa namun memiliki simbolisasi yang sangat beragam. Mulai dari perannya sebagai aset sosial untuk melancarkan hubungan diplomasi antar kerajaan, sebagai penanda derajat kebangsawanan seseorang, sebagai bahan pengawet jenazah, sampai fungsinya yang dianggap dapat meningkatkan vitalitas pria.

Pada masa gemilangnya rempah-rempah  menjadi komoditas yang sangat digilai. Pedagang-pedagang dari asia, timur, sampai eropa rela melakukan perjalanan mengarungi samudera, saling berperang, dan rela mengorbankan nyawa demi mendapatkan komoditas ini dan mengetahui di mana lokasi tempat tumbuhnya rempah-rempah. Pada saat itu peta dunia belum ada, kompas belum ditemukan sehingga para penjelajah ini hanya mengandalkan arah mata angin. Banyak dari ekspedisi ini yang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terombang-ambing di lautan. Dan begitu sampai di daratan jumlah awak kapal telah berkurang drastis akibat malnutrisi, kelelahan, dan keputusasaan.

Salah satu negara yang paling berambisi untuk menemukan rempah-rempah adalah Portugis dan Spanyol. Pada abad ke-15 sampai abad ke-16 dua negara ini mengalami bentrokan habis-habisan dalam memperebutkan rempah-rempah. Portugis bahkan melakukan kekerasan terhadap pedagang-pedagang dari timur. Di India tempat lokasi perdagangan rempah-rempah terjadi, para pedagang Portugis menyabotase kapal-kapal pedagang dari arab yang menyebabkan 53 orang terbunuh, merampas rempah-rempah mereka, membakar dan menenggelamkan kapal-kapal para pedagang arab yang dapat mereka jangkau.

Statusnya sebagai komoditi eksklusif yang sangat mahal dan sulit didapatkan menjadikan rempah-rempah sebagai penyedap panganan yang hanya bisa dinikmati kaum bangsawan. Pada abad pertengahan orang-orang kaya ini menyantap rempah-rempah bukan karena rasanya yang enak, tapi karena rempah-rempah mencitrakan cita rasa yang elegan, eksklusifitas, dan kekayaan. Para bangsawan ini berlomba-lomba menyajikan rempah-rempah pada pesta perjamuan agar elektabilitasnya sebagai bangsawan kelas tinggi mendapatkan pengakuan.

Rempah-rempah dianggap sama berharganya dengan emas, sehingga pada saat belum adanya standarisasi mata uang rempah-rempah dijadikan sebagai alat tukar universal. Terdapat beberapa catatan mengenai budak yang membeli kebebasan mereka dengan membayar lada dan rempah lainnya. Mayoritas masyarakat miskin juga menggunakan rempah sebagai obat dan alat pembayaran sewa. Lada terutama, bertahan sebagai bentuk pembayaran simbolik hingga akhir abad ke-14. 

Selain sebagai penentu status sosial, rempah-rempah juga dianggap tidak kalah pentingnya dalam dunia medis. Saat dunia kedokteran belum berkembang seperti sekarang, rempah-rempah diyakini sebagai obat yang dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Pada abad pertengahan peracik rempah dianggap sebagai profesi yang sangat diperlukan, fungsi buku masak pun serupa dengan dokter atau ahli medis. Pada saat itu penyakit diklasifikasikan menjadi empat jenis yaitu; penyakit panas, dingin, basah, dan kering. Dan cara menyembuhkannya adalah dengan meracik rempah-rempah yang cocok untuk jenis penyakit tersebut.

Salah satu pandemi yang paling besar di abad pertengahan adalah wabah "black death" yang membunuh sebagian besar populasi orang eropa. Wabah ini adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang dibawa dan disebarkan oleh kutu parasit pada hewan pengerat, terutama tikus coklat. Namun hal ini tidak diketahui oleh masyarakat abad pertengahan, karena baru teridentifikasi pada tahun 1894 M. Orang-orang pada saat itu menganggap bahwa wabah tersebut disebarkan melalui udara yang kotor sehingga mereka menggunakan rempah-rempah sebagai pelindung karena aromanya yang tajam dan wangi dipercaya dapat mengusir sumber penyakit.

Selain itu, seorang pakar seksolog abad pertengahan bernama Konstantinus juga mempercayai khasiat rempah-rempah guna mengatasi impotensi. Ia mengajukan racikan dari jahe, lada, akar lengkuas, dan kayu manis untuk diseduh dan diminum setelah makan siang dan makan malam. Jahe dianggap dapat meningkatkan gairah seksual dan kesuburan, memicu produksi sperma yang berlimpah, serta membuat kenikmatan hubungan seksual bertahan lama. Karena fungsinya ini, penggunaan rempah-rempah dalam lingkup keuskupan/biara dikurangi karena dianggap mendatangkan nafsu kotor. Setelah munculnya agama monoteis peran rempah-rempah semakin berkurang.

Rempah-rempah juga dijadikan sebagai bahan pengawet alami. Selain mengawetkan makanan, rempah-rempah juga digunakan untuk mengawetkan mayat. Di Mesir penggunaan rempah-rempah sangat penting guna menjaga jasad tetap segar, tidak membusuk, dan lebih enak dipandang. Fir'aun yang merupakan raja Mesir pada saat itu menggunakan banyak sekali rempah-rempah untuk mengawetkan jasadnya. Beberapa kalangan bangsawan juga meminta agar ketika meninggal jasad mereka diberi rempah-rempah. Karena obsesi yang kuat ini sampai di liang lahat pun orang-orang masih ingin menjaga citra sosialnya dengan menggunakan rempah-rempah.

Dalam buku-buku sejarah yang pernah kita pelajari di bangku sekolah kita mengetahui bahwa proses Islamisasi menyebar di Indonesia melalui jalur perdagangan. Sebelum VOC mengeksploitasi sumber kekayaan rempah yang ada di Maluku. Perdagangan antara penduduk lokal dengan pedagang dari timur sampai eropa berjalan dengan lancar, rempah-rempah ditukarkan dengan kain sutra, besi, perak, dan komoditi lainnya. Maluku yang pada saat itu adalah titik temu yang dilalui semua rempah-rempah yang dibawa dari timur menuju barat pada tahun 1641 jatuh ke tangan Belanda. 

VOC kemudian memonopoli semua perdagangan rempah-rempah yang ada di Nusantara. Beberapa pelabuhan salah satunya pelabuhan di Makassar dibubarkan oleh VOC karena dianggap sebagai jalur perdagangan rempah-rempah ilegal. Pada saat rempah-rempah sudah mudah dijangkau dan dianggap kurang eksotis, kaum bangsawan beralih dari rempah-rempah dan memburu cita rasa yang lebih eksklusif. Pada abad ke-21 rempah-rempah kehilangan sebagian besar pesonanya disebabkan karena keunikan dan kemisteriusan penyaluran serta asal-usulnya sudah terpecahkan.

Kejatuhan rempah-rempah juga disebabkan karena para pedagang berhasil membuat rempah-rempah tumbuh di barat. Tercatat bahwa ada 300 benih cengkih yang dibawa oleh pedagang Prancis untuk di dibudidayakan, meskipun mayoritas benih tersebut mati namun ada juga yang berhasil beradaptasi dengan iklim. Panen cengkih pertama kali di barat terjadi pada tahun 1776 yang selanjutnya disusul dengan panen pala. Pada masa pencerahan rempah-rempah tidak lagi memiliki daya tarik secara medis, sosial, bahkan spritual.

Meskipun ditutup dengan kejatuhan eksistensi rempah-rempah namun sebagai pembaca saya dibuat sangat takjub. Bumbu dapur yang setiap hari saya konsumsi ini ternyata punya pengaruh yang sangat dahsyat di masa lalu. Saya pikir sebagai warga Indonesia kita perlu berbangga karena komoditas yang membuat orang-orang barat terobsesi dan rela bertarung nyawa itu tumbuh di Indonesia. Maluku, Ternate, dan Tidore adalah produsen rempah-rempah terbesar di abad pertengahan. Rempah-rempah yang saat ini hadir disetiap makanan yang kita makan mengandung nilai historis yang sangat menakjubkan. 

Sebelum menutup ulasan ini saya ingin sedikit mengomentari visual bukunya. Isinya sangat padat, jarak tulisan antar paragraf hampir tidak ada space jadi barangkali butuh waktu ekstra untuk menyelesaikan buku ini. Saya sebagai pembaca yang cepat pun butuh sembilan hari untuk menyelesaikan buku setebal 416 halaman ini. Tapi yang jadi keunggulannya, buku ini dilengkapi catatan kaki dan glosarium untuk memudahkan pembaca memahami istilah-istilah yang tidak familiar.

Namun jika ingin membaca buku ini teman-teman harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Bukan hanya pembahasannya yang eksklusif tapi untuk mendapatkan buku ini juga cukup eksklusif. Saya menunggu sebulan lebih untuk buku ini ready stok lagi. Beberapa hari lalu admin kobam membalas DM saya dan mengatakan buku ini sudah ready stok tapi harganya sudah menjadi 280k belum lagi dengan ongkirnya. Saat saya cek sampai sekarang hanya tersisa 3 pcs saja di laman online shopnya. Jadi untuk yang mau membacanya siap-siap war ya hahaha.

Selamat membaca!!πŸ“šπŸ™Œ 

~rantπŸ€






Komentar

Postingan Populer