Mengungkap Misteri Otak Perempuan Melalui Buku "The Female Brain"
Ada satu ungkapan yang sering sekali saya dengar yang mengatakan kalau perempuan dalam banyak hal terlalu emosional dan terlalu melibatkan perasaan dalam menyikapi banyak hal. Jujur saja terkadang sebagai perempuan kita juga kesal jika mendengar ungkapan tersebut. Tapi bagaimana kalau ternyata sisi emosional yang lebih peka memang adalah takdir biologis seorang perempuan?
Buku yang merupakan hasil penelitian selama 20 tahun ini adalah karya fenomenal dari dr. Louann Brizendine yang merupakan neuropsikiater, peneliti klinis, dan seorang profesor di Universitas California. Buku ini mengungkapkan secara lugas dan ilmiah mengenai perbedaan otak laki-laki dan perempuan mulai dari cara berpikir, berkomunikasi, interaksi sosial, sampai ranah seksual.
Mengapa perempuan jauh lebih emosional dibandingkan laki-laki?
Dalam sebuah hasil penelitian yang dijelaskan oleh penulis di buku ini memperlihatkan bahwa pada pusat bahasa dan pendengaran di otak, pusat pengendali emosi dan pembentukan memori (hipokampus), serta sirkuit otak untuk berkomunikasi dan mengobservasi emosi jauh lebih besar jumlahnya pada otak perempuan dibandingkan laki-laki.
Hal ini menyebabkan perempuan jauh lebih peka dan lebih baik dalam mengekspresikan emosi, serta mengingat detail kecil yang emosional dalam suatu peristiwa ataupun interaksi dengan orang lain. Perempuan juga dibekali kemampuan untuk menilai pikiran dan perasaan orang lain melalui ekspresi wajah, nada suara, gestur tubuh yang menunjukkan nuasa emosional. Yang tentunya mempengaruhi cara perempuan merespon realitas yang ada di depan mereka.
Berangkat dari pengalaman saya sendiri, sering kali ketika berbicara dengan orang lain saya kerap memperhatikan mimik wajah, nada suara, serta bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh lawan bicara saya. Dan sering kali ketika saya menganggap dia tidak tertarik dengan apa yang saya sampaikan, saya pun akhirnya menarik diri dan merespon seadanya, tidak seperti sebelumnya.
Awalnya saya pikir tindakan saya itu karena mood saya yang kurang bagus, tapi di buku ini ternyata dijelaskan bahwa otak perempuan tidak menoleransi pengabaian. Ketika melihat ekspresi wajah yang datar, respon yang datar dan tidak antusias maka sirkuit otak perempuan kita menganggap itu sebagai tanda bahwa kita melakukan kesalahan. Ketika perempuan berinteraksi dengan orang lain yang otaknya harapkan adalah respon yang bersemangat dan antusias karena hal tersebut menandakan penerimaan.
Kematangan sisi emosional yang lebih cepat menjadikan anak perempuan juga jauh lebih mudah merasakan empati dibandingkan anak laki-laki. Jika melihat kondisi menyakitkan misalnya seperti bencana alam, kecelakaan, atau putus cinta, perempuan lebih mudah memberikan bantuan, memberikan saran, dan ikut terlibat secara langsung karena otak perempuannya mampu memahami dan merasakan rasa sakit tersebut.
Tapi meskipun demikian bukan berarti perempuan tidak bisa berpikir rasional. Penulis menjelaskan kalau otak laki-laki dan perempuan memiliki kemampuan yang sama dalam ranah kognitif. Lebih dari 99 persen kode genetik laki-laki dan perempuan sama persis. Alasan mengapa dalam bidang sains jumlah tenaga kerja perempuan jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki adalah karena pengaruh hormonal otak perempuan yang mendorong untuk terlibat dalam aktivitas yang lebih bersifat sosial.
Mengapa perempuan jauh lebih cerewet dibandingkan laki-laki?
Dalam sehari perempuan dapat menggunakan 20.000 kata, sedangkan laki-laki hanya sekitar 7.000 kata perhari. Hal ini karena pusat komunikasi di otak perempuan berkembang jauh lebih besar dibandingkan laki-laki yang menjadikan perempuan lebih mampu menggunakan banyak metode komunikasi. Kondisi ini juga menjelaskan mengapa kemampuan berbicara anak perempuan berkembang lebih cepat dibandingkan anak laki-laki.
Selain karena area verbal di otak perempuan jauh lebih besar, bagi perempuan bahasa adalah perekat yang menghubungkan satu perempuan dengan perempuan lainnya yang kemudian menciptakan kenyamanan secara biologis. Perempuan terbiasa menceritakan rahasia kepada teman perempuannya dan menjadikan gosip sebagai aktivitas menyenangkan karena hal tersebut menjadi alat bantu bagi perempuan untuk menavigasi dan meringankan pasang surut tekanan hidup.
Menghubungkan diri melalui pembicaraan akan mengaktifkan pusat kesenangan di otak perempuan. Inilah alasan mengapa komunikasi menjadi cara perempuan untuk memperkuat ikatan sosial ataupun ikatan romantisme dengan pasangan. Dengan berbagai cerita menyenangkan terjadi lonjakan Dopamin dan oksitosin dalam otak perempuan yang merupakan zat kimia yang merangsang motivasi dan kesenangan.
Kemampuan verbal perempuan juga menjadikannya memiliki hubungan sosial yang berkualitas. Banyak pertemanan antar perempuan yang bertahan lama karena adanya komunikasi dua arah yang aktif, kemampuan memahami perasaan, serta adanya keinginan untuk hadir sebagai pendengar menjadikan perempuan lebih mudah mempertahankan ikatan sosialnya dibandingkan laki-laki. Fyi circle pertemanan saya yang isinya perempuan sudah bertahan 14 tahun.
Nah lainnya halnya dengan laki-laki. Laki-laki tidak memiliki dorongan yang kuat untuk melakukan hubungan verbal sebagaimana perempuan. Hal ini dipengaruhi oleh peningkatan kadar hormon testosteron yang memengaruhi otak laki-laki dan menjadikan kemampuan berbicara mereka mengalami penurunan dan mengurangi minat bersosialisasi, namun kondisi ini dapat berubah ketika hal itu berkaitan dengan olahraga atau pengejaran seksual.
Mengapa laki-laki memikirkan seks setiap menit sedangkan perempuan hanya memikirkan seks dua hari sekali?
Jika pusat bahasa jauh lebih besar pada otak perempuan, maka sebaliknya laki-laki memiliki dua kali lipat ruang otak yang dikhususkan untuk hasrat seksual serta pusat otak yang lebih besar untuk melakukan aksi dan tindakan agresif. Rata-rata otak laki-laki memikirkan hal-hal seksual berkali-kali setiap harinya, sedangkan otak perempuan hanya sekali dalam sehari atau tiga sampai empat kali pada masa-masa subur.
Perbedaan ini berawal ketika testosteron pada janin laki-laki membuahi pusat otak yang berhubungan dengan dengan seks yang disebut sebagai "area untuk dorongan seksual" di hipotalamus untuk tumbuh lebih besar. Lonjakan testosteron ini kemudian terjadi lagi saat masa pubertas yang kemudian memperkuat dan memperbesar koneksi otak lainnya pada laki-laki yang memberikan informasi ke pusat-pusat seks, termasuk sistem visual, penciuman, sentuhan, dan kognitif.
Sistem otak laki-laki untuk seks selalu dalam kondisi siaga dengan setiap aroma parfum dan setiap perempuan yang berjalan. Karena area pemrosesan visual jauh besar pada otak laki-laki hal ini juga menjadikan laki-laki cenderung lebih mudah jatuh cinta pada pandangan pertama daripada perempuan. Tentu saja dengan pertimbangan aspek-aspek fisik seperti wajah, ukuran payudara dan bokong yang menjadi karakteristik utama seorang laki-laki dalam memilih pasangan.
Perbedaan kondisi otak ini menjadikan laki-laki membutuhkan sentuhan dua hingga tiga kali lebih sering untuk memperhatikan kadar oksitosin dalam otak. Oksitosin adalah zat kimia yang dapat menyebabkan relaksasi, keberanian, ikatan, dan kepuasan. Itu sebabnya hubungan jarak jauh biasanya tidak bertahan bagi laki-laki karena saat mereka berjauhan dengan pasangannya dapat membuat sirkuit dan reseptor Dopamin serta oksitosin di otak laki-laki merasa kekurangan.
Barangkali penjelasan-penjelasan tersebut bisa menjawab keresahan dan pertanyaan yang selama ini sering muncul di pikiran kita mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan dalam berbagai hal. Mulai dari komunikasi, sisi emosional, sampai hal yang berkaitan dengan ranah seksual.
Sebenarnya masih banyak sekali fakta-fakta menarik yang saya dapatkan dari buku ini contohnya jawaban mengapa perempuan lebih tidak rasional ketika jatuh cinta, mengapa perempuan cenderung menghindari konflik, mengapa laki-laki tidak mampu melihat emosi kecuali jika pasangannya menangis, dan seterusnya. Tapi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan saya tuliskan di sini, alangkah baiknya teman-teman membacanya langsung.
Buku ini bisa menjadi pedoman bagi perempuan untuk memahami sisi dalam dirinya yang barangkali belum menemukan jawaban. Lewat buku ini kita bisa melihat realitas otak perempuan yang sangat kompleks. Dan bukan hanya perempuan, buku ini penting untuk dibaca juga oleh laki-laki agar mereka bisa memahami kondisi biologis dan neurologis pasangannya sehingga apabila terjadi cekcok dalam hubungan romantisme yang dijalani barangkali jawabannya bisa ditemukan dalam buku ini.
Happy Reading 📚 🙌
Semoga semua mahluk berbahagia💓
~rant🍀
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar