Mengapa Kita Mencintai?
Jangan baca buku ini kalau kalian mengharapkan kiat-kiat mudah dalam mencintai. Sebab apa yang disampaikan oleh Erich Fromm justru berbanding terbalik. Di buku ini penulis akan membawa pembaca untuk menjawab pertanyaan dasar mengapa manusia ingin dicintai dan mengapa manusia harus mencintai. Bagi Fromm cinta adalah jawaban atas permasalahan eksistensi manusia oleh karenanya tidak akan bisa diperoleh dengan cara yang mudah.
Premis pertama buku ini menjelaskan bahwa cinta adalah seni sehingga membutuhkan pengetahuan, disiplin, dan konsistensi untuk mempelajarinya. Karena cinta adalah seni maka cinta itu seharusnya tidak eksklusif. Ketika membicarakan cinta berarti kita membicarakan hubungan manusia dengan dirinya, manusia dengan manusia lain, dan manusia dengan Tuhan.
Dalam seni mencintai yang merupakan kata kerja aktif kita perlu untuk menguasai teori dan cara penerapannya agar bisa mencintai dengan baik. Erich Fromm menjabarkan beberapa elemen yang bisa membentuk "cinta" diantaranya adalah pengetahuan, perhatian, tanggung jawab, dan rasa hormat. Bagaimana mungkin kita bisa mencintai sesuatu yang tidak kita ketahui dan asing bagi kita? Kalau ada yang mengatakan "saya jatuh cinta pada pandangan pertama" bisa dipastikan itu cuma omong kosong.
Untuk mencintai kita memerlukan informasi mengenai orang yang kita cintai, mengetahui latar belakangnya, seperti apa sifatnya, bagaimana dia bersikap, cara berpikirnya seperti apa dan hal-hal yang barangkali dianggap sepele seperti warna favorit, makanan dan minuman kesukaan, film yang sering dia tonton dan lain sebagainya. Dengan mengetahui kualitas-kualitas dari diri seseorang tersebut, kita bisa mencintai dan memandang dia sebagai subjek yang utuh dalam dirinya sendiri.
Dari pengetahuan itu kemudian akan tumbuh kepedulian. Kepedulian untuk mendukung orang yang kita cintai bertumbuh lebih baik setiap harinya. Peduli dengan setiap langkah-langkah yang ia ambil untuk hidupnya. Artinya kita bukan hanya ada sebagai entitas pasif tapi juga berperan aktif mengusahakan agar apa yang diinginkan, diharapkan oleh orang yang kita cintai bisa ia penuhi. Dengan begitu cinta secara otomatis akan ikut bertumbuh. Kalau katanya Erich Fromm "orang mencintai apa yang diusahakannya dan mengusahakan apa yang yang dicintainya".
Kepedulian menumbuhkan tanggung jawab dan rasa hormat. Tanggung jawab yang dimaksud bukanlah keharusan yang dipaksakan namun muncul secara alami dan penuh ketulusan. Karena kita sudah memilih untuk mencintai artinya segala bentuk tanggung jawab yang muncul atas dasar cinta harus dipenuhi dengan sadar dan sukarela. Sedangkan rasa hormat artinya mampu melihat seseorang sebagai eksistensi penuh. Menghormati pilihan dan keputusan yang ia ambil untuk hidupnya. Kita tidak menuntut seseorang sesuai dengan standar kita, bersikap sesuai apa yang kita harapkan namun membiarkannya sebagai apa adanya dirinya.
Erich Fromm menjelaskan bahwa selama ini kita berada di dalam ilusi mencintai, kita meyakini cinta akan muncul jika kita bertemu dengan orang yang tepat. Tapi pertanyaannya bagaimana bisa kita memberi cinta kalau kita sendiri tidak menumbuhkan cinta dalam diri kita? Seseorang memberi jika ia memiliki sesuatu bukan? Bagi Fromm cinta harus ada dalam diri terlebih dahulu dengan begitu terlepas dari siapa orangnya bagaimana keadaannya kita akan bisa mencintai dengan baik.
Nah kembali ke pertanyaan awal. Mengapa manusia ingin dicintai? Erich Fromm menjelaskan bahwa manusia ingin terbebas dari rasa keterasingan. Kita merasa ingin dilengkapi oleh seseorang sehingga banyak dari kita melakukan apa saja untuk dapat dicintai. Yang paling umum adalah menyesuaikan diri dengan objek yang kita cintai agar bisa mendapatkan cinta. Memberi untuk menerima, masuk ke dalam pasar kepribadian dengan menawarkan kualitas-kualitas diri agar bisa bertemu dengan seseorang yang juga memiliki kualitas serupa. Tidak ada bedanya dengan perdagangan. Hubungan yang lahir dari hal seperti ini tidak akan bertahan lama karena sebatas transaksional. Begitu tidak ada lagi yang bisa kita berikan, cinta pun ikut menghilang.
Karenanya Fromm dalam buku ini menganjurkan agar kita belajar dulu, jangan sibuk mencari objek tapi sibuklah untuk belajar mencintai terlebih dahulu. Karena ketika diri kita sudah penuh dengan cinta maka tidak peduli lagi siapa objeknya kita bisa mencintai sesama manusia sebagai manusia utuh. Mencintai manusia tanpa syarat dengan fokus memberi tanpa meminta, hadir tanpa perlu dipaksa, dan peduli tanpa harus berpura-pura. Dengan begitu kita sudah berhasil dalam seni mencintai.
Menyelesaikan buku ini membuat saya merefleksikan beberapa hal saat saya menjalani hubungan romantis dengan seseorang. Dan faktor-faktor yang membuat hubungan itu berakhir bisa saya pahami dengan lebih jelas berkat buku ini. Apa yang dulu saya anggap sebagai cinta ternyata bukan cinta. Dan ya meskipun apa yang disampaikan oleh Fromm ini sangat tidak mudah tapi barangkali bisa menjadi panduan dan pengingat untuk diri sendiri bahwa sebelum mencintai orang lain, cinta harus ada dan tumbuh di dalam diri saya dulu. Sebagai penutup saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca, meskipun barangkali pembaca akan kecewa dengan isi bukunya tapi menurutku buku ini perlu dibaca kalau kita mengharapkan hubungan romansa yang sama-sama memanusiakan dan saling mencintai dengan cukup.
Selamat membaca ππ»π
~rantπ
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar